Search For Islam

Selasa, 24 November 2009

Bangga Menjadi Ibu Rumah Tangga


Hebat rasanya ketika mendengar ada seorang wanita lulusan sebuah universitas ternama telah bekerja di sebuah perusahaan bonafit dengan gaji jutaan rupiah per bulan. Belum lagi perusahaan sering menugaskan wanita tersebut terbang ke luar negri untuk menyelesaikan urusan perusahaan. Tergambar seolah kesuksesan telah dia raih. Benar seperti itukah?

Kebanyakan orang akan beranggapan demikian. Sesuatu dikatakan sukses lebih dinilai dari segi materi sehingga jika ada sesuatu yang tidak memberi nilai materi akan dianggap remeh. Cara pandang yang demikian membuat banyak dari wanita muslimah bergeser dari fitrohnya. Berpandangan bahwa sekarang sudah saatnya wanita tidak hanya tinggal di rumah menjadi ibu, tapi sekarang saatnya wanita `menunjukkan eksistensi diri' di luar. Menggambarkan seolah-olah tinggal di rumah menjadi seorang ibu adalah hal yang rendah.

Kita bisa dapati ketika seorang ibu rumah tangga ditanya teman lama "Sekarang kerja dimana?" rasanya terasa berat untuk menjawab, berusaha mengalihkan pembicaraan atau menjawab dengan suara lirih sambil tertunduk "Saya adalah ibu rumah tangga". Rasanya malu! Apalagi jika teman lama yang menanyakan itu "sukses" berkarir di sebuah perusahaan besar. Atau kita bisa dapati ketika ada seorang muslimah lulusan universitas ternama dengan prestasi bagus atau bahkan berpredikat cumlaude hendak berkhidmat di rumah menjadi seorang istri dan ibu bagi anak-anak, dia harus berhadapan dengan "nasehat" dari bapak tercintanya: "Putriku! Kamu kan sudah sarjana, cumlaude lagi! Sayang kalau cuma di rumah saja ngurus suami dan anak." Padahal, putri tercintanya hendak berkhidmat dengan sesuatu yang mulia, yaitu sesuatu yang memang menjadi tanggung jawabnya. Disana ia ingin mencari surga.

Ibu Sebagai Seorang Pendidik

Syaikh Muhammad bin Shalih al `Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa perbaikan masyarakat bisa dilakukan dengan dua cara: Pertama, perbaikan secara lahiriah, yaitu perbaikan yang berlangsung di pasar, masjid, dan berbagai urusan lahiriah lainnya. Hal ini banyak didominasi kaum lelaki, karena merekalah yang sering nampak dan keluar rumah. Kedua, perbaikan masyarakat di balik layar, yaitu perbaikan yang dilakukan di dalam rumah. Sebagian besar peran ini diserahkan pada kaum wanita sebab wanita merupakan pengurus rumah. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah subhanahu wa ta'ala yang artinya:

"Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa kalian, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya." (QS. Al-Ahzab: 33)

Pertumbuhan generasi suatu bangsa adalah pertama kali berada di buaian para ibu. Ini berarti seorang ibu telah mengambil jatah yang besar dalam pembentukan pribadi sebuah generasi. Ini adalah tugas yang besar! Mengajari mereka kalimat Laa Ilaaha Illallah, menancapkan tauhid ke dada-dada mereka, menanamkan kecintaan pada Al Quran dan As Sunah sebagai pedoman hidup, kecintaan pada ilmu, kecintaan pada Al Haq, mengajari mereka bagaimana beribadah pada Allah yang telah menciptakan mereka, mengajari mereka akhlak-akhlak mulia, mengajari mereka bagaimana menjadi pemberani tapi tidak sombong, mengajari mereka untuk bersyukur, mengajari bersabar, mengajari mereka arti disiplin, tanggung jawab, mengajari mereka rasa empati, menghargai orang lain, memaafkan, dan masih banyak lagi. Termasuk di dalamnya hal yang menurut banyak orang dianggap sebagai sesuatu yang kecil dan remeh, seperti mengajarkan pada anak adab ke kamar mandi. Bukan hanya sekedar supaya anak tau bahwa masuk kamar mandi itu dengan kaki kiri, tapi bagaimana supaya hal semacam itu bisa menjadi kebiasaan yang lekat padanya. Butuh ketelatenan dan kesabaran untuk membiasakannya.

Sebuah Tanggung Jawab

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, yang artinya:

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS. At Tahrim: 6)

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala yang artinya: "Peliharalah dirimu dan keluargamu!" di atas menggunakan Fi'il Amr (kata kerja perintah) yang menunjukkan bahwa hukumnya wajib. Oleh karena itu semua kaum muslimin yang mempunyai keluarga wajib menyelamatkan diri dan keluarga dari bahaya api neraka.

Tentang Surat At Tahrim ayat ke-6 ini, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu `anhu berkata, "Ajarkan kebaikan kepada dirimu dan keluargamu." (Diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Mustadrak-nya (IV/494), dan ia mengatakan hadist ini shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim, sekalipun keduanya tidak mengeluarkannya)

Muqatil mengatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah, setiap muslim harus mendidik diri dan keluarganya dengan cara memerintahkan mereka untuk mengerjakan kebaikan dan melarang mereka dari perbuatan maksiat.

Ibnu Qoyyim menjelaskan bahwa beberapa ulama mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta'ala akan meminta pertanggungjawaban setiap orang tua tentang anaknya pada hari kiamat sebelum si anak sendiri meminta pertanggungjawaban orang tuanya. Sebagaimana seorang ayah itu mempunyai hak atas anaknya, maka anak pun mempunyai hak atas ayahnya. Jika Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Kami wajibkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya." (QS. Al Ankabut: 7), maka disamping itu Allah juga berfirman, "Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang berbahan bakar manusia dan batu." (QS. At Tahrim: 6)

Ibnu Qoyyim selanjutnya menjelaskan bahwa barang siapa yang mengabaikan pendidikan anaknya dalam hal-hal yang bermanfaat baginya, lalu ia membiarkan begitu saja, berarti telah melakukan kesalahan besar. Mayoritas penyebab kerusakan anak adalah akibat orang tua yang acuh tak acuh terhadap anak mereka, tidak mau mengajarkan kewajiban dan sunnah agama. Mereka menyia-nyiakan anak ketika masih kecil sehingga mereka tidak bisa mengambil keuntungan dari anak mereka ketika dewasa, sang anak pun tidak bisa menjadi anak yang bermanfaat bagi ayahnya.

Adapun dalil yang lain diantaranya adalah firman Allah subhanahu wa ta'ala yang artinya:

"dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang dekat." (QS asy Syu'ara': 214)

Abdullah bin Umar radhiyallahu `anhuma mengatakan bahwa Rasulullah shalallahu `alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), "Kaum lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya di rumah, dia bertanggung jawab atas keluarganya. Wanita pun pemimpin yang mengurusi rumah suami dan anak-anaknya. Dia pun bertanggung jawab atas diri mereka. Budak seorang pria pun jadi pemimpin mengurusi harta tuannya, dia pun bertanggung jawab atas kepengurusannya. Kalian semua adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya." (HR. Bukhari 2/91)

Dari keterangan di atas, nampak jelas bahwa setiap insan yang ada hubungan keluarga dan kerabat hendaknya saling bekerja sama, saling menasehati dan turut mendidik keluarga. Utamanya orang tua kepada anak, karena mereka sangat membutuhkan bimbingannya. Orang tua hendaknya memelihara fitrah anak agar tidak kena noda syirik dan dosa-dosa lainnya. Ini adalah tanggung jawab yang besar yang kita akan dimintai pertanggungjawaban tentangnya.

Siapa Menanam, Dia akan Menuai Benih

Bagaimana hati seorang ibu melihat anak-anaknya tumbuh? Ketika tabungan anak kita yang usia 5 tahun mulai menumpuk, "Mau untuk apa nak, tabungannya?" Mata rasanya haru ketika seketika anak menjawab "Mau buat beli CD murotal, Mi!" padahal anak-anak lain kebanyakan akan menjawab "Mau buat beli PS!" Atau ketika ditanya tentang cita-cita, "Adek pengen jadi ulama!" Haru! mendengar jawaban ini dari seorang anak tatkala ana-anak seusianya bermimpi "pengen jadi Superman!"

Jiwa seperti ini bagaimana membentuknya? Butuh seorang pendidik yang ulet dan telaten. Bersungguh-sungguh, dengan tekad yang kuat. Seorang yang sabar untuk setiap hari menempa dengan dibekali ilmu yang kuat. Penuh dengan tawakal dan bergantung pada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Lalu… jika seperti ini, bisakah kita begitu saja menitipkannya pada pembantu atau membiarkan anak tumbuh begitu saja?? Kita sama-sama tau lingkungan kita bagaimana (TV, media, masyarakat,…) Siapa lagi kalau bukan kita, wahai para ibu -atau calon ibu-?

Setelah kita memahami besarnya peran dan tanggung jawab seorang ibu sebagai seorang pendidik, melihat realita yang ada sekarang sepertinya keadaannya menyedihkan! Tidak semua memang, tapi banyak dari para ibu yang mereka sibuk bekerja dan tidak memperhatikan bagaimana pendidikan anak mereka. Tidak memperhatikan bagaimana aqidah mereka, apakah terkotori dengan syirik atau tidak. Bagaimana ibadah mereka, apakah sholat mereka telah benar atau tidak, atau bahkan malah tidak mengerjakannya… Bagaimana mungkin pekerjaan menancapkan tauhid di dada-dada generasi muslim bisa dibandingkan dengan gaji jutaan rupiah di perusahaan bonafit? Sungguh! sangat jauh perbandingannya.

Anehnya lagi, banyak ibu-ibu yang sebenarnya tinggal di rumah namun tidak juga mereka memperhatikan pendidikan anaknya, bagaimana kepribadian anak mereka dibentuk. Penulis sempat sebentar tinggal di daerah yang sebagian besar ibu-ibu nya menetap di rumah tapi sangat acuh dengan pendidikan anak-anak mereka. Membesarkan anak seolah hanya sekedar memberinya makan. Sedih!

Padahal anak adalah investasi bagi orang tua di dunia dan akhirat! Setiap upaya yang kita lakukan demi mendidiknya dengan ikhlas adalah suatu kebajikan. Setiap kebajikan akan mendapat balasan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tidak inginkah hari kita terisi dengannya? Atau memang yang kita inginkan adalah kesuksesan karir anak kita, meraih hidup yang berkecukupan, cukup untuk membeli rumah mewah, cukup untuk membeli mobil mentereng, cukup untuk membayar 10 pembantu, mempunyai keluarga yang bahagia, berakhir pekan di villa. Tanpa memperhatikan bagaimana aqidah, bagaimana ibadah, asal tidak bertengkar dan bisa senyum dan tertawa ria di rumah, disebutlah itu dengan bahagia.

Ketika usia senja, mata mulai rabun, tulang mulai rapuh, atau bahkan tubuh ini hanya mampu berbaring dan tak bisa bangkit dari ranjang untuk sekedar berjalan. Siapa yang mau mengurus kita kalau kita tidak pernah mendidik anak-anak kita? Bukankah mereka sedang sibuk dengan karir mereka yang dulu pernah kita banggakan, atau mungkin sedang asik dengan istri dan anak-anak mereka?

Ketika malaikat maut telah datang, ketika jasad telah dimasukkan ke kubur, ketika diri sangat membutuhkan doa padahal pada hari itu diri ini sudah tidak mampu berbuat banyak karena pintu amal telah ditutup, siapakah yang mendoakan kita kalau kita tidak pernah mengajari anak-anak kita?

Lalu…

Masihkah kita mengatakan jabatan ibu rumah tangga dengan kata `cuma'? dengan tertunduk dan suara lirih karena malu?

Wallahu a'lam

Penulis: Ummu Ayyub
Muroja'ah: Ust Abu Ahmad

Copy paste from Milis myqurn

ps : Idealisme normatif atau realistiskah ditengah kejamnya fitnah dunia ini, bagai buah simalakama

Rabu, 18 November 2009

DILEMA ANTARA AROGANSI DAN KEBENCIAN


Mungkin inilah pilihan hidup, atau mungkin inilah pembelajaran dalam memulai kehidupan, ada yang di untungkan dan ada yang di rugikan, ada yang kalah dan ada yang menang, ada yang diatas ada pula yang di bawah, tetapi mengapa semua tidak mau bercemin hanya ingin mengandalkan arogansi dan saling membenci pada hakekatnya semua kembali kepada diri sendiri, hiduplah dengan bijaksana karena hidup kita bukan semata di dunia tetapi tujuan kita hanyalah kehidupan yang abadi nanti, ingat lah akan kematian arogansi dan kebencian bukanlah jalan yang benar, mari kita berbagi, saling memperbaiki diri dan bercermin, manusia tidak ada yang sempurna, setinggi tingginya kedudukan manusia masih ada yang lebih tinggi lagi begitu juga dengan kebencian yang bisa membuat iman kita goyah karena disana terdapat nafsu syatn yang bergejolak dan akan membelenggu segeralah bertobat kawan dan rekan mari kita duduk bersama, berbagi, saling membantu dan memperingati/menasehati serta saling mendoakan.

Kamis, 10 September 2009

Di Balik Klarifikasi Lengkap Soraya Abdullah (Siapa Tau Bermanfaat)

(Embedded image moved to file: pic11942.jpg)


Soraya Abdullah, mantan artis yang diberitakan menghilang, mengirim email
ke redaksi detikcom. Lewat email itu , Soraya membantah menghilang. Ia juga
menjelaskan hubungannya dengan keluarga tersangka terorisme M Jibril.

Namun sayang, perempuan yang akrab disapa Aya itu sama sekali tidak
menyebut di mana dia tinggal saat ini. Nomor telepon yang tertera pun tidak
dapat dihubungi alias tidak aktif. Dikirimi email, Soraya pun belum
memberikan balasan.

Berikut klarifikasi lengkap Aya lewat email soraya.abdullah@ymail.com itu
yang diterima detikcom, Senin (7/9/2009):

Segala puji hanya bagi Allah Rabb Alam Semesta, Yang Hanya Pada-Nya Segala
Kekuasaan dan Segala Keselamatan seluruh penduduk langit dan bumi, Yang
Menguasai Hari Pembalasan, Yang Menghitung Dengan Cepat Segala Apapun Amal
yang kita lakukan di dunia ini, dan Yang Tidak Akan Tertidur terhadap
hamba-Nya yang terzalimi.

Salam dan Sholawat bagi Baginda yang mulia Rasulullah SAW beserta keluarga,
sahabat-sahabatnya dan seluruh pengikutnya yang setia sampai akhir zaman
nanti.

Assalaamu'alaikum manit taba'a al Hudaa amma ba'du..

Sehubungan dengan maraknya pemberitaan kami (Soraya Abdullah Balvas) di
media massa tentang fitnah keterlibatan kami dengan sekelompok jaringan
teroris (naudzubillah) baik di dalam maupun di luar negeri, dengan ini kami
berusaha ingin mengklarifikasi permasalahan tersebut...Bi idznillah...:

1. Kami mengkaji ilmu agama ditempat Ust. Abu Jibriel (Ayahanda Muhammad
Jibriel Abdurrahman), semenjak april 2007. Isi materi pengajiannya
bersifat umum, seperti fiqh, hadits dan Bahasa Arab, sama dengan
pengajian-pengajian (ahlussunnah) umum lainnya. Siapa saja bisa datang
bergabung mengaji di sini tanpa terkecuali. Kajian tersebut bersifat rutin
semenjak beberapa tahun yang
lalu. Ini bisa dilihat dari ibu ibu yang menghadiri pengajian Ust. Abu
Jibril
baik yang mengenakan penutup wajah (cadar) maupun tidak.

2. Kaitan semenjak itu kami berubah penampilan dengan mengenakan penutup
muka (cadar) adalah karena keinginan pribadi kami dalam menjaga kehormatan
wanita muslimah terlebih dalam keadaan pergaulan metropolitan yang semakin
rusak. Banyak perbuatan tidak senonoh dikarenakan fitnah dari wajah, oleh
karenanya bagi kami, wajah adalah sumber fitnah dan awal dari malapetaka.

Dalam komunitas pengajian Ust. Abu Jibril, pada awalnya yang mengenakan
penutup muka (cadar) hanyalah kami dan istri ust Abu Jibril (Ummu Jibril),
namun atas hidayah-Nya pula akhirnya banyak ibu ibu yang ingin menjaga
kehormatannya dan menghindari fitnah dengan turut mengenakan penutup muka.
Kesadaran ini bukanlah kewajiban ketika mengikuti pengajian Ust. Abu
Jibril. Semoga kebaikan bagi muslimah yang berusaha menjaga kehormatanNya
di tengah badai fitnah yang menimpa kaum muslimin saat ini.

Kamipun tetap mendoakan untuk ibu ibu yang baru belajar Islam agar lebih
terbuka hatinya, meresapkan ilmunya, dan diaplikasikannya syariah Islam
dalam kehidupan sehari hari. Janganlah seperti wanita yang setelah
mengikuti pengajian, kembali mengunjungi cafe cafe untuk berdugem. Ataupun
taubat hanya
pada saat Ramadhan. Naudzubillah...

3. Terkait hubungan kami dengan Arrahmah Media hanyalah sebatas freelance
marketing, terlebih kesibukan kami sebagai orangtua yang tidak bisa
memberikan waktu yang lebih banyak lagi. Namun Alhamdulillah, sedikit ilmu
yang kami dapatkan pada saat kuliah perfilm-an dan pada saat menjadi artis
dapat sedikit membantu mengemas produk produk Arrahmah tersebut. Kami
sangat menghargai
profesionalitas Arrahmah media yang begitu concern memberitakan secara
berimbang perjuangan kaum muslimin di sisi dunia lain yang dikemas dengan
gaya dokumenter. Sebagai seorang muslim, kami hanya mengamalkan sebuah
seruan:

Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara QS. Al Hujurat 10. "Dan
barangsiapa yang bangun dan tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, maka
ia tidak termasuk golongan mereka (kaum muslimin)". (HR Hakim dan Al
Khatib dari Hudzaifah ra.)

Dari Nu'man ibn Basyir, Rasulullah Saw. bersabda: Perumpamaan orang-orang
mukmin yang saling mencintai dan saling menyayangi serta saling mengasihi
adalah bagaikan satu tubuh, apabila sebagian anggota tubuh itu sakit, maka
seluruh tubuhnya ikut merasakan sakit. (HR. Bukhari dan
Muslim).

Bagaimana kesedihan sebagai seorang muslim ketika dia dapat bercengkerama
dengan suami, berkumpul bersama keluarga dan anak anak, bisa jalan jalan
dengan tenang ke mall, makan dengan kenyang di restaurant, tidur dengan
nyenyak di atas kasur yang empuk, selimut tebal dengan pendingin ruangan
yang
sangat sejuk tanpa harus mendengar suara dentuman bom atau desingan peluru,
atau ketakutan dari bom fosfor dari kafir penjajah Amerika Serikat, Israel,
dan kafir harbi muharriban fi'lan lainnya.

Minimal untaian doa yang kami harapkan dari diterbitkannya film dokumentasi
Arrahmah Media ketika di Iraq, dikabarkan bahwa seorang muslimah bernama
Fatimah yang diperkosa oleh tentara kafir pendudukan hingga 9 kali dalam
sehari. Hingga mengandung dan rusak rahimnya. Demikian pula tangis janda
dan
anak anak yang kehilangan suami dan ayahnya dari peperangan yang dunia
terbisu mendiamkannya.

Adapun fitnah fitnah lain yang tidak dapat dipertanggung jawabkan, kami
serahkan kepada Allah atas segala perhitungannya.

4. Keterkaitan Akhi (saudara) Muhammad Jibriel Abdurrahman dengan pendanaan
aksi terorisme Insya ALLAH itu tidak benar. Akhi jibriel hanyalah seorang
wartawan yang profesional. Bagi kami penangkapan ini sekedar bermuatan
politis dan kepentingan semata, dikarenakan Arrahmah berbeda dengan media
lainnya, yang dengan berani menyuarakan perjuangan kaum muslimin secara
lebih transparan. Atas nama kebebasan pers pula, hal ini menjadi bias
dikalangan media informasi di negeri ini. Seorang wartawan pula, memiliki
keinginan kuat menembus sosok sosok yang cukup layak untuk diwawancarai.
Seperti wartawan BBC/Al Jazeera yang berhasil mewawancarai Usama bin Ladin.
Apakah dengannya kemudian mengkaitkan wartawan tersebut dengan terorisme?

Kedzaliman pun nampak pula dengan perpanjangan masa tahanan Akhi Jibriel
hingga 4 bulan tanpa alasan yang layak secara hukum. Dengan berbagai delik
pelanggaran hukum yang sering berubah. Stigmatisasi teroris terhadap akhi
Muhammad Jibriel Abdurrahman adalah pelanggaran HAM, karena persidangan
yang akan memutuskan bersalahpun belum berjalan. Ini merupakan bentuk
penghukuman sepihak tanpa keadilan dan lepas dari praduga tak bersalah.

5. Terkait dengan kepergian kami semenjak beberapa waktu silam. Kami
informasikan bahwa kepergian kami sekedar untuk menunaikan kewajiban orang
tua terhadap pendidikan anaknya untuk memilihkan yang terbaik. Atas dasar
rasa cinta kami terhadap ananda terkait kesehatan pergaulan mereka, maka
kami telah berpindah semenjak awal Bulan Mei 2009, dan sudah kami
konsultasikan kepada keluarga dan rekan-rekan semenjak setahun terakhir.
Kekhawatirkan kami terhadap pergaulan yang tidak sehat terhadap anak-anak
kami, dan berbagai macam dampak mudharat (buruk) terhadap keduanya.
Sebelumnya pula kami berusaha
menemui RT/RW setempat, namun berhubung kendala waktu (beliau hanya bisa
ditemui pada malam hari saja, sedangkan kami -sebagai seorang muslimah yang
berusaha menjaga kehormatan diri- hanya bisa keluar siang) akhirnya kami
gagal menemuinya.

Kemudian kami berpamitan kepada salah satu pengurus DKM (Dewan
Kesejahteraan Masjid) setempat. Di Jakarta pula, kami sekeluarga merasa
jenuh dan kurang berkonsentrasi beribadah. Karena suatu saat nanti, kami
akan dimintai pertanggungjawaban atas pendidikan buah hati kami dihadapan
Allah kelak.

Alhamdulillah, kini kondisi kami sekeluarga dalam keadaan tenang.
Berkonsenterasi untuk mendidik buah hati kami dengan naungan Alquran dalam
setiap saat. Menjadikan ananda sebagai anak solih/ sholeha yang terbebas
dari lingkungan yang tidak Islami.

6. Kami memohon maaf kepada seluruh rekan rekan wartawan media cetak dan
elektronik, atas keterlambatan statement ini. Dikarenakan minimnya media
informasi di lingkungan kami saat ini. Demi perkembangan kebaikan anak
anak, kami singkirkan radio, tv dan lainnya. Di lingkungan kami pun hanya
sekedar CD Player yang hanya kami gunakan untuk melantunkan ayat ayat suci
Al Quran. Kami sekadar mengkhawatirkan pula, fitnah ini juga mempengaruhi
jiwa anak-anak kami.

Maha Suci Allah yg telah membuat kami tuli dan buta atas segala fitnah,
cacian, makian, ghibah dan adu domba media. Di Bulan Suci ini, kami
menghimbau untuk menghentikan membuat sesuatu yg menodai amalan ibadah
kita.

7. Kami berharap kepada seluruh rekan media cetak maupun elektronik untuk
tidak kembali menampilkan foto kami dalam keadaan tidak berhijab
(bercadar), hal itu bagi kami merupakan fitnah baik di dunia dan di
akhirat. Di dunia kami akan menuntut secara hukum atas penampilan foto
tanpa izin kami. Kami tekankan bahwa kami sudah berlepas dari dunia artis
yang penuh fitnah dan malapetaka, kami bersyukur menggantinya dengan
kehidupan Islam yang menyejukkan dan damai. Sungguh Allah mendengarkan doa
hamba yang terdzalimi. Kami berlepas atas apa yang media lakukan, dan
segala perhitungan hanyalah milikNya.

Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan bahwa Nabi SAW telah mengutus Mu'adz ke Yaman
dan Beliau berkata kepadanya : "Takutlah kamu akan doa seorang yang
terzalimi, karena doa tersebut tidak adah hijab (penghalang) diantara dia
dengan Allah". (H.R. Bukhari dan Muslim)

Terakhir kami ingin menyampaikan pesan kepada:

1. Keluarga besar Ust Abu Jibriel, khususnya Akhi Jibriel yg sedang dalam
ujian fitnah ini, semoga ALLAH menuangkan kesabaran dan kekuatan untuk
kalian. Semoga ALLAH membalas dengan pahala yg besar dan rahmatNya yg tiada
batas.

2. Keluarga besar kami yang pastinya kurang nyaman dengan pemberitaan ini,
semoga tabayyun (klarifikasi) ini melegakan kalian. Salam khidmah kami
untuk ibunda yang telah melahirkan, membesarkan dan mendidik anak-anaknya
dengan sepenuh kasih sayang yang tak mampu terbayarkan sampai menjelang
akhir hayat pun, maafkan kami dengan semua fitnah yang berhembus ini, ini
merupakan ujian
kesabaran bagi kita semua, hingga kita kembali di JannahNya bersama. Kami
berharap limpahan doa dari mama agar mampu menjadi wanita sholehah sebagai
syafa'at mama ketika hari perhitungan kelak... Selalu ada doa yang tertuang
di penghujung malam untuk keluarga tercinta.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dlm hadits 'Aisyah radhiyallahu
'anha: "Barangsiapa yang diberi cobaan dengan anak perempuan kemudian ia
berbuat baik pada mereka maka mereka akan menjadi penghalang dari api
neraka".

Abdullah bin 'Abbas radhiyallahu 'anhuma juga meriwayatkan dari beliau
Shallallahu 'alaihi wa sallam: "Tidaklah seorang muslim yg memiliki dua
anak perempuan yang telah dewasa lalu dia berbuat baik pada kedua kecuali
mereka berdua akan memasukkan ke dalam surga".

3. Seluruh kru Arrahmah Media, semoga tetap sabar dan istiqomah dalam
memberitakan dunia Islam secara transparan di tengah badai ujian ini.
Barangkali ujian ini menjadikan Arrahmah Media dapat lebih profesional dari
sebelumnya dan senantiasa mengikhlaskan perjuangan ini semata karena ALLAH,
sehingga pertolongan itu datang. Ingatlah, sesungguhnya pertolongan ALLAH
itu dekat.

Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka
berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada
dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dengan memberi
balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).(QS. Al Fath
18).

4. Seluruh sahabat-sahabat yang mencintai dan kami cintai karena ALLAH,
yang kerap mengkhawatirkan kami, mendoakan kami dalam setiap rukuk dan
sujudnya, jazakumulloh khoiron katsiron untuk tidak sedikit pun mempercayai
berita itu. Fitnah ini sudah termaktubkan dalam haditsnya.

Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Akan terjadi fitnah di mana orang yang
duduk (menghindar dari fitnah itu) lebih baik daripada yang berdiri dan
orang yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan dan orang yang
berjalan lebih baik daripada yang berlari (yang terlibat dalam fitnah).
Orang yang mendekatinya akan dibinasakan. Barang siapa yang mendapatkan
tempat berlindung darinya,
hendaklah ia berlindung. (Shahih Muslim No.5136)

"Bersegeralah kalian melakukan amal shalih sebelum datangnya fitnah, di
mana fitnah itu seperti potongan-potongan malam yang gelap gulita.
Pagi-pagi seorang masih beriman, tetapi di sore hari telah menjadi kafir
dan sore hari seseorang masih beriman, kemudian di pagi harinya sudah
menjadi kafir" (HR. Muslim: Kitabul Iman no. 269)

Mari kita teguhkan pendirian kita dalam perjuangan yang penuh onak dan duri
ini, sungguh jannah (surga) itu sudah ada di depan kita. Hingga janji Allah
untuk mengembalikan Islam di muka bumi terwujud

"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu
dan mengerjakan amal-amal yang sholeh bahwa Dia sungguh benar-benar akan
menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan
orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi
mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan dia benar-benar akan
menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman
sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu
apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu,
maka mereka itulah orang-orang yang fasik". (Surat An Nuur (24) ayat 55)

"Urusan (Islam) ini benar-benar akan mencapai apa yang dicapai oleh malam
dan siang (yakni seluruh dunia), dan Alloh tidak akan menyisakan sebuah
rumah pun di muka bumi ini, baik rumah di kota maupun rumah di desa
(penduduk nomaden), kecuali Alloh akan memasukkannya ke dalam agama ini,
dengan
kemuliaan orang yang mulia atau kehinaan orang yang hina. Kemuliaan yang
dengannya Alloh memuliakan Islam dan kehinaan yang dengannya Alloh
menghinakan kekafiran" (HR. Ahmad, Ath-Thabrani, Al Hakim, Ibnu Mandah dan
Ibnu Hiban).

Akhirul kalam, kami menyatakan tabayyun (klarifikasi) ini dengan
sebenar-benarnya kami tuliskan, sehingga Insya ALLAH dapat
dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya kelak.

Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa
suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan
suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang
menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS. al-Hujurat (49) : 6)

Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka,
sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu
mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing
sebahagian yaang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging
saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan
bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha
Penyayang. (QS. al-Hujurat (49) : 12)

Wassalammua'alaikum manit taba'a al hudaa

Al faqir IlaLLOH..


Soraya Abdullah Balvas
and I'm just a piece of dust....

Copy Paste langsung Dari Yahoo News