Search For Islam

Jumat, 26 November 2010

Cara mudah warnai FB dengan al-Qur'an



Assalamu'alaikum ...

Anda menyukai FB ? Anda mencintai al-Qur'an ? Jika ingin mewarnai FB
dengan al-Qur'an, ada TOOL yang memudahkan ...

Ini langkah-langkahnya ...

1. Go to http://www.mosquelife.com/quran.navigator/index.jsp
2. Click salah satu surah, yang paling PAS ...
misal salah satu yang saya nikmati adalah al-Hadid : 7

http://www.mosquelife.com/quran.navigator/ayah.jsp?surahIndex=57&ayahIndex=7

3. Tekan tombol CHECK-IN
4. FB akan meminta ijin menulis ke dalam Wall ... (please ijinin ...)
5. ML akan menuliskan al-Qur'an ke FB ...

Lihat di dinding Facebook Anda :
1. Apakah ayat al-Qur'an muncul di dinding FB ?
2. Apakah bisa di-klik ?

Jika kita BERSAMA-SAMA meramaikan FB dengan al-Qur'an insya Alloh
jejaring sosial FB akan lebih indah ...

Wassalamu'alaikum ...
Dari Milist My Qurn
Eko Budhi S

SEJARAH TASBIH DAN HUKUMNYA



SEJARAH TASBIH DAN HUKUMNYA
Oleh
Ustadz Nurul Mukhlisin Asyrafuddin
http://www.almanhaj.or.id/content/1764/slash/0

Dzikrullah, merupakan amalan yang sangat dianjurkan oleh Allah Jalla Jalaluhu dan RasulNya, dan diperintahkan untuk melakukannya sebanyak-banyaknya, sebagaimana firmanNya, artinya: Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. [Al Ahzab : 41]

Aisyah Radhiyallahu 'anha berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ

"Rasulullah selalu berdzikir kepada Allah dalam setiap kesempatannya". [HR Bukhari dan Muslim].

Dzikir dibagi menjadi dua. Pertama, dzikir mutlaq. Yaitu dzikir yang tidak terkait dengan waktu, jumlah, tempat dan keadaan. Semua perbuatan dan perkataan yang bisa mengingatkan seseorang kepada Allah Jalla Jalaluhu, termasuk dalam dzikir jenis ini, seperti: membaca Al Qur’an, menuntut ilmu, dan lainnya. Seseorang bisa melakukan dzikir kapan saja, berapapun jumlahnya selama tidak bertentangan dengan hal-hal yang sudah ditetapkan dalam agama. Kedua, dzikir muqayyad. Yaitu dzikir yang terikat dengan tempat, seperti: dzikir di Arafah, di Multazam, ketika masuk dan keluar masjid, kamar mandi dan lainnya. Atau terikat dengan jumlah, waktu dan cara. Oleh karenanya, dalam pelaksanaannya juga terikat dengan tata cara yang pernah dilakukan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Di antara contoh dzikir yang terikat dengan jumlah, waktu dan cara, misalnya sebagaimana disabdakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :

مَنْ سَبَّحَ اللَّهَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَحَمِدَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَكَبَّرَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ فَتْلِكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

"Barangsiapa yang mengucapkan “subhaanallah” setiap selesai shalat 33 kali, “alhamdulillah” 33 kali dan “Allahu Akbar” 33 kali; yang demikian berjumlah 99 dan menggenapkannya menjadi seratus dengan “La ilaha illallahu wahdahu la syarikalah, la hul mulku walahul hamdu wa huwa ‘la kulli syai-in qadir” (لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ), akan diampuni kesalahannya, sekalipun seperti buih lautan" [HR Muslim dari Abu Hurairah].

BAGAIMANA CARA RASULULLAH SHALALLLAHU 'ALAIHI WA SALLAM MENGHITUNG DZIKIR (SUBHAANALLAH, ALHAMDULILLAH DAN ALLAHU AKBAR) TERSEBUT?
Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Dzaid, salah satu anggota Majelis Kibaar Ulama di Saudi Arabia, ketika membahas masalah ini menyebutkan: Sudah tsabit (jelas dan ada) petunjuk Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, baik dalam bentuk perkataan, perbuatan dan keputusan (taqrir), bahwa beliau menghitung dzikir dengan jari tangannya, tidak pernah dengan yang lainnya. Demikian itulah yang diamalkan oleh para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan hingga hari ini. Dan termasuk perbuatan yang secara turun-temurun dipraktikkan di kalangan umat, sebagai wujud iqtida’ (percontohan) mereka kepada beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam. Inilah cara yang sesuai dengan ruh Islam, yaitu menghendaki kemudahan dan bisa diamalkan oleh semua orang, kapan saja dan di mana pun tempatnya.[1]

Syaikh Athiyah Muhammad Salim, salah seorang mudarris (guru) di Masjid Nabawi, ketika membahas cara RasulullahShallallahu 'alaihi wa sallam menghitung tasbih tersebut, mencontohkannya dengan menggunakan tangan kanan dan menyatakan: Setiap jari tangan kita memiliki tiga ruas. Apabila setiap ruas mendapatkan satu tasbih, tahmid dan takbir, kemudian dikalikan lima, maka akan berjumlah lima belas dan diulangi lagi sekali, sehingga menjadi tiga puluh, kemudian ditambah dengan satu jari hingga berjumlah tigapuluh tiga kali. Dan ini, selaras dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dzar, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى.

"Setiap pergelangan salah seorang dari kamu adalah shadaqah, setiap tasbih shadaqah, setiap tahmid shadaqah, tahlil shadaqah, takbir shadaqah, mengajak kepada kebaikan shadaqah dan mencegah dari kemungkaran shadaqah dan semua itu cukup dengan dua raka’at dhuha". [HR Bukhari dan Muslim].

Beliau (Syaikh Athiyah) tidak menyebutkan dalilnya harus dengan ruas jari [2]. Yang pasti, menurut beliau, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menghitung dzikirnya dengan jari tangannya, sebagaimana disebutkan oleh Abdullah bin Umar, beliau berkata:

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْقِدُ التَّسْبِيحَ قَالَ ابْنُ قُدَامَةَ بِيَمِينِهِ.

"Saya melihat Rasulullah menghitung tasbih (dzikirnya); Ibnu Qudamah mengatakan dengan tangan kanannya". [3]

Saat sekarang ini, kita sering melihat -khususnya selesai shalat-, orang menghitung dzikirnya dengan menggunakan alat tasbih, yaitu semacam biji-bijian terbuat dari kayu, tulang atau lainnya yang dirangkai dengan benang atau tali, yang jumlahnya biasanya seratus biji. Orang Arab menyebutnya subhah, misbahah, tasaabih, nizaam, atau alat. Sementara orang-orang sufi menyebutnya al mudzakkirah billah (pengingat kepada Allah), raabitatul qulub (pengikat hati), hablul washl atau sauth asy syaithan (cambuk syaitan). Karena dzikir merupakan bagian dari ibadah atau dianggap sebagai ibadah, maka kita harus mengetahui hukumnya, agar benar dalam mengamalkannya. Bagaimana hukum menggunakan alat-alat tersebut?

Sebenarnya, sudah banyak ulama yang menulis dan membahas hukum penggunaan alat tasbih untuk menghitung dzikir [4]. Menurut Syaikh Bakr Abu Dzaid, dari ulama yang terdahulu ataupun yang sekarang (kontemporer), yang pendapatnya bisa dijadikan sebagai hujjah, menunjukkan kesimpulan, bahwa tidak ada satupun hadits yang shahih yang membolehkan menggunakan selain jari tangan untuk menghitung dzikir.

Terhitung ada tiga hadits yang sering dijadikan dalil bolehnya menggunakan alat tasbih untuk menghitung dzikir, diantaranya sebagai berikut:

Pertama: Hadits Shafiyah binti Hayyi (isteri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam) yang berbunyi:

عَنْ كِنَانَةَ مَوْلَى صَفِيَّةَ قَال سَمِعْتُ صَفِيَّةَ تَقُولُ دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَيْنَ يَدَيَّ أَرْبَعَةُ آلَافِ نَوَاةٍ أُسَبِّحُ بِهَا فَقَالَ لَقَدْ سَبَّحْتِ بِهَذِهِ أَلَا أُعَلِّمُكِ بِأَكْثَرَ مِمَّا سَبَّحْتِ بِهِ فَقُلْتُ بَلَى عَلِّمْنِي فَقَالَ قُولِي سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ خَلْقِهِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيثِ صَفِيَّةَ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ مِنْ حَدِيثِ هَاشِمِ بْنِ سَعِيدٍ الْكُوفِيِّ وَلَيْسَ إِسْنَادُهُ بِمَعْرُوفٍ وَفِي الْبَاب عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ

"Dari Kinanah budak Shafiyah berkata, saya mendengar Shafiyah berkata: Rasulullah pernah menemuiku dan di tanganku ada empat ribu nawat (bijian korma) yang aku pakai untuk menghitung dzikirku. Aku berkata,”Aku telah bertasbih dengan ini.” Rasulullah bersabda,”Maukah aku ajari engkau (dengan) yang lebih baik dari pada yang engkau pakai bertasbih?” Saya menjawab,”Ajarilah aku,” maka Rasulullah bersabda,”Ucapkanlah :
سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ خَلْقِهِ. (Maha Suci Allah sejumlah apa yang diciptakan oleh Allah dari sesuatu).” [5]

Kedua : Hadits yang diriwayatkan oleh Sa’ad bin Abi Waqqash:

أَنَّهُ دَخَلَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى امْرَأَةٍ وَبَيْنَ يَدَيْهَا نَوًى أَوْ قَالَ حَصًى تُسَبِّحُ بِهِ فَقَالَ أَلَا أُخْبِرُكِ بِمَا هُوَ أَيْسَرُ عَلَيْكِ مِنْ هَذَا أَوْ أَفْضَلُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي السَّمَاءِ وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي الْأَرْضِ وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا بَيْنَ ذَلِكَ وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا هُوَ خَالِقٌ وَاللَّهُ أَكْبَرُ مِثْلَ ذَلِكَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ مِثْلَ ذَلِكَ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ مِثْلَ ذَلِكَ قَالَ أَبُو عِيسَى وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ حَدِيثِ سَعْدٍ.

"Dia (Sa’ad bin Abi Waqqash) bersama Rasulullah menemui seorang wanita dan di tangan wanita tersebut ada bijian atau kerikil yang digunakan untuk menghitung tasbih (dzikir). Rasulullah bersabda,”Maukah kuberitahu engkau dengan yang lebih mudah dan lebih afdhal bagimu dari pada ini? (Ucapkanlah): Maha Suci Allah sejumlah ciptaanNya di langit, Maha Suci Allah sejumlah ciptaanNya di bumi, Maha Suci Allah sejumlah ciptaanNya diantara keduanya, Maha Suci Allah sejumlah ciptaanNya sejumlah yang Dia menciptanya, dan ucapan: اللَّهُ أَكْبَرُ seperti itu, َالْحَمْدُ لِلَّهِ seperti itu, dan لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ seperti itu.” [6]

Ketiga : Hadits Abu Hurairah, ia berkata:

كَانَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسَبِّحُ بِالْحَصَى

"Rasulullah bertasbih dengan menggunakan kerikil." [7]

Jawaban dan bantahan terhadap ketiga riwayat di atas:
Hadits Abu Hurairah sudah disepakati kepalsuannya, sehingga tidak bisa dijadikan hujjah. Hadits Shafiyah dan riwayat Sa’id bin Abi Waqqash, seandainya dianggap shahih sanadnya dan bisa diterima, tetapi apakah kedua hadits tersebut menunjukkan bolehnya memakai tasbih untuk menghitung dzikir?.

Pada hadits Shafiyah, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mempertanyakan perbuatan Shafiyah yang mengumpulkan biji-bijian di tangannya. Hal ini menunjukkan pengingkaran dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, karena ia melakukan perbuatan yang tidak biasa dilakukan oleh orang lain. Itulah sebabnya, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkannya sesuatu yang lebih baik, yaitu lafadz tasbih yang benar. Karena, jika tindakan Shafiyah yang mengumpulkan bijian itu benar, mestinya tidak akan diingkari, bahkan ia akan dimotivasi untuk melanjutkannya atau paling tidak dibiarkan tetap melakukannya. Dengan demikian, sesungguhnya hadits tersebut sama sekali tidak menunjukkan dalil bolehnya menggunakan tasbih atau kerikil untuk menghitung dzikir.

Adapun hadits Sa’ad bin Abi Waqqash yang menyebutkan beliau melihat wanita yang memegang bijian untuk bertasbih, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menawarkan sesuatu yang lebih mudah, yang akan dijarkan kepadanya dan lebih afdhal. Lafadz “afdhal” atau “aisar” (lebih mudah), bukan berarti yang lainnya itu baik atau mudah juga. Ushlub (metode) seperti ini sering dipakai dalam bahasa Arab, sebagaimana firman Allah :

أَصْحَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَئِذٍ خَيْرٌ مُّسْتَقَرًّا وَأَحْسَنُ مَقِيلاً

"Penghuni-penghuni surga pada hari itu lebih baik tempat tinggalnya dan lebih indah tempat istirahatnya". [Al Furqon : 24].

Syaikh Abdurraman As Sa’di menyatakan,”Sesungguhnya, penggunaan isim tafdhil (menunjukkan yang lebih baik) pada sesuatu yang tidak terdapat pada yang kedua. Karena tidak ada kebaikan pada ahli neraka dan tempat tinggalnya, dibandingkan dengan neraka.” [8]

Contoh lainnya, juga sebagaimana dalam firman Allah Jalla Jalaluhu.

ءَآاللهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ

"Apakah Allah yang lebih baik, ataukah apa yang mereka persekutukan dengan Dia?" [An Naml : 59].

Apakah bisa disamakan kebaikan yang ada pada Allah, dengan yang ada pada sekutu-sekutuNya? Ini suatu kemustahilan.

BAGAIMANA SEJARAH MUNCULNYA ALAT TASBIH? DAN BAGAIMANA ALAT TERSEBUT BISA MASUK KE DUNIA ISLAM, HINGGA KEMUDIAN MENJADI BAGIAN DARI RITUAL IBADAH KAUM MUSLIMIN?
Alat tasbih memiliki sejarah yang sangat panjang [9]. Syaikh Bakr Abu Dzaid menyebutkan, bahwa tasbih sudah dikenal sejak sebelum Islam. Tahun 800M orang-orang Budha sudah menggunakan tasbih dalam ritualnya. Begitu juga Al Barahimah di India, pendeta Kristen dan Rahib Yahudi. Dari India inilah kemudian berkembang ke benua Asia. Beliau juga mengutip sejarah tasbih yang dimuat di Al Mausu’at Al Arabiyah Al ‘Alamiyah, 23/157, ringkasannya sebagai berikut:

Orang-orang Katolik menggunakan limapuluh biji tasbih kecil yang dibagi empat yang diberi pemisah dengan biji tasbih besar dengan jumlah yang sama. Juga dijadikan sebagai kalung yang terdiri dari dua biji besar dan tiga biji kecil, kemudian “matanya” dibuat dengan tanda salib. Mereka membaca puji Tuhan dengan biji tasbih yang besar, dan membaca pujian Maryamiyah dengan biji tasbih yang kecil.

Orang-orang Budha diyakini sebagai orang yang pertama menggunakan tasbih untuk menyelaraskan antara perbuatan dan ucapannya ketika sedang melakukan persembahyangan. Juga dilakukan oleh orang-orang Hindu di India, dan dipraktikkan oleh orang-orang Kristen pada abad pertengahan.

Perkembangan tasbih yang pesat terjadi pada abad 15 M dan 16 M. Dalam kitab Musaahamatul Hindi disebutkan, bahwa orang-orang Hindu terbiasa menggunakan tasbih untuk menghitung ritualnya. Sehingga menghitung dzikir dengan tasbih diakui sebagai inovasi dari orang Hindu (India) yang bersekte Brahma. Dari sanalah kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia.

Sudah disepakati oleh ahli sejarah, bahwa orang-orang Arab Jahiliyah tidak mengenal istilah dan penggunaan tasbih dalam peribadatan mereka. Itulah sebabnya, satu pun tidak ada syair jahiliyah yang menyebutkan kalimat tasbih. Ia merupakan istilah yang mu’arrabah (diarabkan). Begitu juga pada zaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabat. Mereka tidak mengenal istilah tasbih, apalagi menggunakannya. Hal ini berlangsung sampai akhir masa tabi’in. Jika mendapatkan sebuah hadits yang memuat lafadz “subhah” jangan sekali-kali membayangkan, bahwa makna lafadz tersebut adalah alat tasbih, seperti yang dipakai oleh orang sekarang ini. Karena, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berbicara dengan sahabat dan umatnya dengan bahasa yang mereka pahami dan ketahui. Sedangkan tasbih -seperti yang beredar sekarang ini- tidak dikenal oleh sahabat dan juga tabi’in.

Ketika pada akhir masa tabi’in ada orang yang menghitung dzikirnya dengan kerikil atau biji korma (tanpa dirangkai), maka para sahabat, seperti Abdullah bin Mas’ud mengingkari dan melarangnya dengan keras; menganggapnya melakukan perbuatan bid’ah yang besar. Begitu pula yang dilakukan oleh Ibrahim An Nakhai, seorang tabi’in senior, telah melarang puterinya melakukan perbuatan seperti itu, sebagaimana sebelumnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengingkari Shafiyah dan memberitahukannya perbuatan yang lebih baik dan afdhal

Banyak atsar sahabat dan tabi’in yang menunjukkan, bahwa mereka mengingkari orang yang menggunakan bijian atau kerikil untuk menghitung dzikirnya. Diantara atsar tersebut ialah:

- Atsar Aisyah, yaitu ketika melihat seorang wanita dari Bani Kulaib yang menghitung dzikirnya dengan bijian. Aisyah berkata,”Mana jarimu?” [10]

- Atsar Abdullah bin Mas’ud, dari Ibrahim berkata:

كَانَ عَبْدُ اللهِ يَكْرَهُ العَدَّ وَيَقُوْلُ أَيَمُنُّ عَلَى اللهِ حَسَنَاتِهِ

Abdullah bin Mas’ud membenci hitungan (dengan tasbih) dan berkata,”Apakah mereka menyebut-nyebut kebaikannya di hadaan Allah?” [11]

- Atsar dari Ash Shalat bin Bahram, berkata: Ibnu Mas’ud melihat seorang wanita yang bertasbih dengan menggunakan subhah, kemudian beliau memotong tasbihnya dan membuangnya. Beliau juga melewati seorang laki-laki yang bertasbih menggunakan kerikil, kemudian memukulnya dengan kakinya dan berkata,”Kamu telah mendahului (Rasulullah) dengan melakukan bid’ah yang dzalim, dan kamu lebih tahu dari para sahabatnya.” [12]

- Atsar dari Sayyar Abi Al Hakam, bahwasanya Abdullah bin Mas’ud menceritakan tentang orang-orang Kufah yang bertasbih dengan kerikil di dalam masjid. Kemudian beliau mendatanginya dan menaruh kerikil di kantong mereka, dan mereka dikeluarkan dari masjid. Beliau berkata,”Kamu telah melakukan bid’ah yang zhalim dan telah melebihi ilmunya para sahabat Nabi.” [13]

- Atsar dari Amru bin Yahya; dia menceritakan pengingkaran Abdullah bin Mas’ud terhadap halaqah di masjid Kuffah yang orang-orangnya bertasbih, bertahmid dan bertahlil dengan kerikil. [14]

Adapun yang membawa masuk alat tersebut ke dunia Islam dan yang pertama kali memperkenalkannya ialah kelompok-kelompok thariqat atau tasawuf; disebutkan oleh Sidi Gazalba sebagai hasil kombinasi pemikiran antara Islam dengan Yahudi, Kristen, Manawi, Majusi, Hindu dan Budha serta mistik Pytagoras [15]. Sehingga, sampai sekarang hampir semua kelompok-kelompok thariqat dan pengikut tasawuf menjadikan alat tasbih ini sebagai bagian dari ibadah mereka. Bahkan, tidak jarang pula mengalungkan tasbih di leher, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Hindu, Budha dan Pendeta Kristen; menjadikannya sebagai wasilah (perantara) untuk mengobati orang sakit atau hajat lainnya dengan membasuhnya dan meminum airnya, na’uzubillah. Dapat dipastikan, bahwa kelompok-kelompok yang menjadikan thariqat atau tasawuf sebagai landasan manhajnya, akan menjadikan alat tasbih ini sebagai syiar ibadah mereka.

Ada juga orang yang menggunakannya dengan alasan karena dzikirnya banyak, dan sering lupa atau keliru jumlahnya kalau tidak menggunakan alat tasbih.

Seorang tokoh sufi Al Bannan dalam kitabnya Minhah Ahlul Futuhat Wal Zauq menyebutkan, penggunaan jari tangan hanya dilakukan oleh orang-orang yang dzikirnya sedikit, yaitu seratus atau yang kurang dari itu. Adapun ahlu dzikir wal aurad (istilah untuk mereka yang “banyak dzikirnya” di kalangan sufi dan tharikat), kalau mereka menggunakan jarinya untuk menghitung dzikirnya yang banyak, pasti banyak salahnya dan disibukkan dengan jarinya. Dan inilah hikmah penggunaan tasbih.

Subhanallah. Adakah ketentuan dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dzikir muqayyad (terikat dengan waktu, tempat dan jumlah) yang lebih dari seratus? Perintah Allah Jalla Jalaluhu seperti dalam Al Qur’an, artinya: Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang banyak. (Al Ahzab:35) dan lainnya, tidak menentukan bentuk dan jumlah tertentu untuk berdzikir.

Jumlah dzikir seperti seratus atau yang kurang dari itu, merupakan ta’abbudiyah (ketentuan dari Rasulullah) yang wajib dipatuhi oleh orang yang mengaku sebagai pengikut Rasulullah. Ibnu Mas’ud menasihatkan, bahwa sedikit dalam sunnah jauh lebih baik daripada banyak namun bid’ah.

Perlulah diingat, janganlah hanya dzikir (kebaikan) yang kita hitung, namun kesalahan yang pernah dilakukan juga perlu dipikirkan, sebagaimana nasihat Umar bin Khattab : Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab”.[16] Artinya, yang harus dihisab (dihitung) ialah semua yang telah kita lakukan, baik berupa kebaikan maupun kejelekan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

اتَّقِ الْمَحَارِمَ تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ

"Jauhilah yang diharamkan. Engkau akan menjadi orang yang paling baik" [17].

Orang yang melakukan perbuatan bid’ah sering berdalih, bahwa tidak semua yang tidak dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan sahabatnya dianggap bid’ah. Misalnya, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak memakai tasbih, bukan berarti itu tidak boleh menggunakannya. Karena mungkin tasbih waktu itu belum ada, atau menggunakan tasbih hanya sebuah sarana agar lebih khusyu’ dalam berdzikir.

Untuk menjawab masalah ini, Syaikh Ali bin Hasan Al Halabi, salah satu murid senior Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani menulis bab tersendiri dalam kitabnya Ushul Al Bida’ yang kesimpulannya, bahwa semua ibadah yang tidak pernah disyari’atkan oleh Rasulullah, baik dengan perkataannya dan tidak pernah beliau lakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah Jalla Jalaluhu adalah bertentangan dengan sunnah. Karena sunnah itu ada yang fi’liyah (dilakukan) dan ada yang tarkiyah (yang tidak dilakukan oleh Rasulullah). Dengan demikian, ibadah yang tidak dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam termasuk sunnah yang harus ditinggalkan.

Ketika salah satu dari tiga orang sahabat berjanji untuk melakukan shalat semalam suntuk dan tidak akan tidur, yang lainnya akan berpuasa sepanjang masa dan tidak akan berbuka, dan yang terakhir tidak mau menikah, maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengingkarinya dan bersabda, "Demi Allah, sayalah (orang) yang paling takut diantara kalian kepada Allah, dan paling bertaqwa kepadaNya; tetapi saya berpuasa dan berbuka, shalat dan tidur dan menikahi wanita. Barangsiapa yang benci kepada sunnahku, maka bukan termasuk golonganku." [HR Bukhari Muslim dari Anas bin Malik].

Pada prinsipnya, tiga sahabat tadi melakukan perbuatan yang disunnahkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, seperti: berpuasa, iffah (menjaga diri) dan shalat malam, namun dengan cara yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, sehingga beliau mengingkarinya. Hadits di atas sekaligus membantah, bahwa niat yang baik, kalau tidak sesuai dengan sunnah (praktik) Rasulullah, maka tidak akan menjadi sebab suatu amal perbuatan itu diterima di sisi Allah. Ibnu Rajab, dalam kitab Fadl Ilmu Salaf, hlm. 31 menyebutkan, apa yang telah disepakati oleh Salaf untuk ditinggalkan, maka tidak boleh diamalkan; karena mereka tidak meninggalkan sesuatu, kecuali atas dasar ilmu bila sesuatu hal dimaksud tidak boleh diamalkan.

KESIMPULAN
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya tidak pernah menggunakan alat tasbih dalam menghitung dzikirnya; dan ini merupakan sunnah yang harus diikuti. Seandainya menggunakan tasbih merupakan kebaikan, niscaya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabat merupakan yang pertama sekali melakukannya.

Oleh sebab itu, orang yang paham dan berakal tidak akan menyelisihi sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menghitung dzikir dengan jari tangannya, menggantinya dengan hal-hal yang bid’ah, yaitu menghitung dzikir dengan tasbih atau alat penghitung lainnya. Inilah yang disepakati oleh seluruh ulama pengikut madzhab, seperti yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. [18]

Alangkah indah pesan Imam Asy Syafi’i rahimahullah ,”Kami akan mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, baik dalam melakukan suatu ibadah atau dalam meninggalkannya.” Abdullah bin Umar menambahkan,”Semua bid’ah adalah sesat, meskipun manusia memandangnya baik.” [19]

Wallahu a’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun VI/1423H/2002M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]
_______
Footnote
[1]. Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Dzaid, Tashih Ad Du’a, Riyad, Daar Al Ashimah, 1419, hlm. 136.
[2]. Penulis menghadiri kajiannya dan melihat langsung beliau mempraktikkan hal tersebut. Hal ini, kata beliau, hanya sebuah ijtihad saja, tidak harus begitu. Yang penting menghitungnya dengan jari tangan kanan sebagaimana dalam hadits Rasulullah di atas.
[3]. HR Abu Dawud, Bab tasbih bil hasha, no. 1502.
[4]. Syaikh Bakar Abu Dzaid menyebutkan beberapa kitab yang membahas masalah ini. Diantaranya, kitab: Al Minhah fi As Subhah; kitab Al Haawi, II/ 139-144 karangan As Suyuthi; Nuzhatul Fikar fi Subhati Adz Dzikr oleh Al Kanawi; Kamus Taajul Arus pada kalimat “sabaha”; Majmu’ Fatawa, Syaikhul Islam, juz 22/506; Madaarij As Salikiin, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, III/ 120; As Silsilah Adh Dhaifah, Syaikh Al Albani, no. 83; Nailul Authar, II/166, Majalah Al Azhar, Edisi 21 Tahun 1949M hlm. 62-63; Majalah Al Wa’i Al Islamy, Edisi 308; Fatawa Lajnah Daimah, no. 2229, 6460, 4300, dan masih banyak lagi kitab dan media lainnya yang membahas masalah tersebut.
[5]. HR Tirmidzi, beliau berkata,”Hadist ini gharib. Saya tidak mengetahuinya, kecuali lewat jalan ini, yaitu Hasyim bin Sa’id Al Kufi.” Ibnu Hajar dalam kitab At Taqrib menyebutnya dhaif (lemah), begitu juga gurunya, Kinanah Maula Shafiyah didhaifkan oleh Al Adzdi.
[6]. HR Abu Dawud, 4/ 366; At Tirmidzi, no. 3568 dan berkata,”Hadits hasan gharib.” Nasai’i dalam Amal Al Yaum wa Lailah; Ath Thabrani dalam Ad Du’a, 3/ 1584; Al Baihaqi dalam Asy Syu’ab, 1/347 Al Baghawi, dalam Syarhu As Sunnah, 1279 dan lainnya. Semua sanadnya bersumber pada Sa’id bin Abi Hilal. Ibnu Hajar menganggapnya “shaduuq”.
[7]. HR Abu Al Qashim Al Jurjaani dalam Tarikh Jurjaan, no. 68. Dalam sanadnya terdapat Abdullah bin Muhammad bin Rabi’ah Al Qudami yang sering membuat hadits munkar dan maudhu. Dan didhaifkan oleh Syaikh Albani dalam Silsilah, no.1002.
[8]. Tafsir Karimurrahman, II/ 190
[9]. Sejarah lengkapnya bisa dibaca di Da’iratul Ma’arif Al Islamiyah, juz 11/233-234; Al Mausu’at Al Arabiyah Al Muyassarah, 1/958; Al Mausu’at Al Arabiyah Al Alamiyah, 23/157; Fatawa Rasyid Ridha, 3/ 435-436, dan lainnya.
[10]. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Al Mushnaf, no. 7657, dalam sanadnya terdapat jahalah (orang yang tidak diketahui).
[11]. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Al Mushnaf, no. 7667 dengan sanad yang shahih.
[12]. Diriwayatkan oleh Ibnu Waddaah Al Qurthub dalam kitab Al Bida’ wa An Nahyu ‘Anha, hlm. 12 dengan sanad yang shahih, tetapi ada inqitha’, karena Ash Shalat tidak pernah mendengar dari Ibnu Mas’ud.
[13]. Diriwayatkan oleh Ibnu Waddaah Al Qurthubi dalam kitab Al Bida’ Wa An Nahyu ‘Anha, hlm. 11 dengan sanad yang shahih. Juga ada inqitha’, karena Sayyar tidak pernah mendengar dari Ibnu Mas’ud.
[14]. Riwayat selengkapnya, lihat Sunan Ad Darimi, Kitabul Muqaddimah, hadits no. 206. Juga disebutkan dalam Tarikh Wasith, Aslam bin Sahl Ar Razzaz Al Wasithi. Syaikh Al Albani menshahihkan sanad hadits ini dalam As Silsilah Ash Shahihah, hadits no. 2005.
[15]. Sidi Gazalba, Sistematika Filsafat (Jakarta, Bulan Bintang, Juli 1991), Cet. Kelima, hlm. 20. Untuk mengetahui hubungan antara tasawuf dengan agama Hindu, Budha dan lainnya, lihat di dua kitab Ihsan Ilahi Dzahir, Mansya’ Wa Al Mashadir; telah diterjemahkan dengan judul Sejarah Hitam Tasawuf Latar Belakang Kesesatan Sufi, oleh Fadhli Bahri, (Jakarta, Darul Falah, 2001), Cet.I. dan Dirasatun Fi At Tashawuf; telah diterjemahkan dengan judul Tasawuf, Bualan Kaum Sufi Ataukah Sebuah Konspirasi? oleh Abu Ihsan Al Atsari, (Jakarta, Darul Haq, 2001), Cet. I.
[16]. Ingat, riwayat ini bukanlah hadits, tetapi perkataan Umar bin Khattab. Lihat Ibnu Katsir IV/ 414 dan Silsilah Adh Dhaifah, no. 1201.
[17]. Shahihul Jami’, I/ 82 no. 100.
[18]. Lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah, 22/506; Al Waabil Ash Shayyib, Ibnul Qayyim, Fashl 68; Nailul Authar, Syaukani, II/353 dan Al Mausu’ah Al Fiqhiyah, 11/ 284.
[19]. Lihat kembali bahaya bid’ah, As Sunnah, Edisi 08/Tahun VII/1424 H hlm. 31-32.


dari millist my Qurn
Abu Abdillah

Jumat, 08 Oktober 2010

Pesankan Saya Tempat Di Neraka.. (Sebuah Renungan)



Musim panas merupakan ujian yang cukup berat. Terutama bagi Muslimah, untuk tetap mempertahankan pakaian kesopanannnya. Gerah dan panas tak lantas menjadikannya menggadaikan etika.

Berbeda dengan musim dingin, dengan menutup telinga dan leher kehangatan badan bisa terja…ga. Jilbab memang memiliki multifungsi.

Dalam sebuah perjalanan yang cukup panjang, dari Kairo ke Alexandria; di sebuah mikrobus, ada seorang perempuan muda berpakaian kurang layak untuk dideskripsikan sebagai penutup aurat, karena menantang kesopanan. Ia duduk diujung kursi dekat pintu keluar. Tentu saja dengan cara pakaian seperti itu mengundang ‘perhatian’ kalau bisa dibahasakan sebagai keprihatinan sosial.

Seorang bapak setengah baya yang kebetulan duduk disampingnya mengingatkan bahwa pakaian yang dikenakannya bisa mengakibatkan sesuatu yang tak baik bagi dirinya sendiri. Disamping itu, pakaian tersebut juga melanggar aturan agama dan norma kesopanan. Orang tua itu bicara agak hati-hati, pelan-pelan, sebagaimana seorang bapak terhadap anaknya.

Apa respon perempuan muda tersebut? Rupanya dia tersinggung, lalu ia ekspresikan kemarahannya karena merasa hak privasinya terusik. Hak berpakaian menurutnya adalah hak prerogatif seseorang!

“Jika memang bapak mau, ini ponsel saya. Tolong pesankan saya, tempat di neraka Tuhan Anda!”

Sebuah respon yang sangat frontal. Orang tua berjanggut itu hanya beristighfar. Ia terus menggumamkan kalimat-kalimat Allah. Penumpang lain yang mendengar kemarahan si wanita ikut kaget, lalu terdiam.

Detik-detik berikutnya, suasana begitu senyap. Beberapa orang terlihat kelelahan dan terlelap dalam mimpi, tak terkecuali perempuan muda itu.

Lalu sampailah perjalanan di penghujung tujuan, di terminal terakhir mikrobus Alexandria .

Kini semua penumpang bersiap-siap untuk turun, tapi mereka terhalangi oleh perempuan muda tersebut yang masih terlihat tidur, karena posisi tidurnya berada dekat pintu keluar.

“Bangunkan saja!” kata seorang penumpang.
“Iya, bangunkan saja!” teriak yang lainnya.

Gadis itu tetap bungkam, tiada bergeming.

Salah seorang mencoba penumpang lain yang tadi duduk di dekatnya mendekati si wanita, dan menggerak-gerakkan tubuh si gadis agar posisinya berpindah.

Namun, astaghfirullah! Apakah yang terjadi?

Perempuan muda tersebut benar-benar tidak bangun lagi. Ia menemui ajalnya dalam keadaan memesan neraka!

Kontan seisi mikrobus berucap istighfar, kalimat tauhid serta menggumamkan kalimat Allah sebagaimana yang dilakukan bapak tua yang duduk di sampingnya. Ada pula yang histeris meneriakkan Allahu Akbar dengan linangan air mata.

Sebuah akhir yang menakutkan. Mati dalam keadaan menantang Tuhan.
Seandainya setiap orang mengetahui akhir hidupnya….
Seandainya setiap orang menyadari hidupnya bisa berakhir setiap saat…
Seandainya setiap orang takut bertemu dengan Tuhannya dalam keadaan yang buruk…
Seandainya setiap orang tahu bagaimana kemurkaan Allah…

Sungguh Allah masih menyayangi kita yang masih terus dibimbingNya.
Allah akan semakin mendekatkan orang-orang yang dekat denganNYA untuk semakin dekat.

Dan mereka yang terlena seharusnya segera sadar…
mumpung kesempatan itu masih ada!

Apakah booking tempatnya terpenuhi di alam sana? Wallahu a’lam.

Ditulis dalam majalah Almanar (bukan Almanar yang dulu dikelola syekh Muhammad Rasyid Ridho yang kemudian menulis tafsir Almanar itu, melainkan Almanar Aljadid/neo-Almanar)

sumber:

http://www.facebook.com/hatibening

Jumat, 08 Januari 2010

KEKEBIASAAN TIDUR PAGI TERNYATA BERBAHAYA


Kita telah ketahui bersama bahwa waktu pagi adalah waktu yang penuh berkah dan di antara waktu yang kita diperintahkan untuk memanfaatkannya. Akan tetapi, pada kenyataannya kita banyak melihat orang-orang melalaikan waktu yang mulia ini. Waktu yang seharusnya dipergunakan untuk bekerja, melakukan ketaatan dan beribadah, ternyata dipergunakaan untuk tidur dan bermalas-malasan. Saudaraku, ingatlah bahwa orang-orang sholih terdahulu sangat membenci tidur pagi. Kita dapat melihat ini dari penuturan Ibnul Qayyim ketika menjelaskan masalah banyak tidur yaitu bahwa banyak tidur dapat mematikan hati dan membuat badan merasa malas serta membuang-buang waktu. Beliau rahimahullah mengatakan,“Banyak tidur dapat mengakibatkan lalai dan malas-malasan. Banyak tidur ada yang termasuk dilarang dan ada pula yang dapat menimbulkan bahaya bagi badan.
Waktu tidur yang paling bermanfaat yaitu :
[1] tidur ketika sangat butuh,
[2] tidur di awal malam –ini lebih manfaat daripada tidur di akhir malam-,
[3] tidur di pertengahan siang –ini lebih bermanfaat daripada tidur di waktu pagi dan sore-. Apalagi di waktu pagi dan sore sangat sedikit sekali manfaatnya bahkan lebih banyak bahaya yang ditimbulkan, lebih-lebih lagi tidur di waktu ‘Ashar dan awal pagi kecuali jika memang tidak tidur semalaman.
Menurut para salaf, tidur yang terlarang adalah tidur ketika selesai shalat shubuh hingga matahari terbit. Karena pada waktu tersebut adalah waktu untuk menuai ghonimah (pahala yang berlimpah). Mengisi waktu tersebut adalah keutamaan yang sangat besar, menurut orang-orang sholih. Sehingga apabila mereka melakukan perjalanan semalam suntuk, mereka tidak mau tidur di waktu tersebut hingga terbit matahari. Mereka melakukan demikian karena waktu pagi adalah waktu terbukanya pintu rizki dan datangnya barokah (banyak kebaikan).” (Madarijus Salikin, 1/459, Maktabah Syamilah)
BAHAYA TIDUR PAGI
[Pertama] Tidak sesuai dengan petunjuk Al Qur'an dan As Sunnah.
[Kedua] Bukan termasuk akhlak dan kebiasaan para salafush sholih (generasi terbaik umat ini), bahkan merupakan perbuatan yang dibenci.
[Ketiga] Tidak mendapatkan barokah di dalam waktu dan amalannya.
[Keempat] Menyebabkan malas dan tidak bersemangat di sisa harinya.
Maksud dari hal ini dapat dilihat dari perkataan Ibnul Qayyim. Beliau rahimahullah berkata, "Pagi hari bagi seseorang itu seperti waktu muda dan akhir harinya seperti waktu tuanya." (Miftah Daris Sa'adah, 2/216). Amalan seseorang di waktu muda berpengaruh terhadap amalannya di waktu tua. Jadi jika seseorang di awal pagi sudah malas-malasan dengan sering tidur, maka di sore harinya dia juga akan malas-malasan pula.
[Kelima] Menghambat datangnya rizki.
Ibnul Qayyim berkata, "Empat hal yang menghambat datangnya rizki adalah [1] tidur di waktu pagi, [2] sedikit sholat, [3] malas-malasan dan [4] berkhianat." (Zaadul Ma’ad, 4/378)
[Keenam] Menyebabkan berbagai penyakit badan, di antaranya adalah melemahkan syahwat.
Copy Paste dari Milis Myqurn
(Zaadul Ma’ad, 4/222)

Selasa, 24 November 2009

Bangga Menjadi Ibu Rumah Tangga


Hebat rasanya ketika mendengar ada seorang wanita lulusan sebuah universitas ternama telah bekerja di sebuah perusahaan bonafit dengan gaji jutaan rupiah per bulan. Belum lagi perusahaan sering menugaskan wanita tersebut terbang ke luar negri untuk menyelesaikan urusan perusahaan. Tergambar seolah kesuksesan telah dia raih. Benar seperti itukah?

Kebanyakan orang akan beranggapan demikian. Sesuatu dikatakan sukses lebih dinilai dari segi materi sehingga jika ada sesuatu yang tidak memberi nilai materi akan dianggap remeh. Cara pandang yang demikian membuat banyak dari wanita muslimah bergeser dari fitrohnya. Berpandangan bahwa sekarang sudah saatnya wanita tidak hanya tinggal di rumah menjadi ibu, tapi sekarang saatnya wanita `menunjukkan eksistensi diri' di luar. Menggambarkan seolah-olah tinggal di rumah menjadi seorang ibu adalah hal yang rendah.

Kita bisa dapati ketika seorang ibu rumah tangga ditanya teman lama "Sekarang kerja dimana?" rasanya terasa berat untuk menjawab, berusaha mengalihkan pembicaraan atau menjawab dengan suara lirih sambil tertunduk "Saya adalah ibu rumah tangga". Rasanya malu! Apalagi jika teman lama yang menanyakan itu "sukses" berkarir di sebuah perusahaan besar. Atau kita bisa dapati ketika ada seorang muslimah lulusan universitas ternama dengan prestasi bagus atau bahkan berpredikat cumlaude hendak berkhidmat di rumah menjadi seorang istri dan ibu bagi anak-anak, dia harus berhadapan dengan "nasehat" dari bapak tercintanya: "Putriku! Kamu kan sudah sarjana, cumlaude lagi! Sayang kalau cuma di rumah saja ngurus suami dan anak." Padahal, putri tercintanya hendak berkhidmat dengan sesuatu yang mulia, yaitu sesuatu yang memang menjadi tanggung jawabnya. Disana ia ingin mencari surga.

Ibu Sebagai Seorang Pendidik

Syaikh Muhammad bin Shalih al `Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa perbaikan masyarakat bisa dilakukan dengan dua cara: Pertama, perbaikan secara lahiriah, yaitu perbaikan yang berlangsung di pasar, masjid, dan berbagai urusan lahiriah lainnya. Hal ini banyak didominasi kaum lelaki, karena merekalah yang sering nampak dan keluar rumah. Kedua, perbaikan masyarakat di balik layar, yaitu perbaikan yang dilakukan di dalam rumah. Sebagian besar peran ini diserahkan pada kaum wanita sebab wanita merupakan pengurus rumah. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah subhanahu wa ta'ala yang artinya:

"Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa kalian, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya." (QS. Al-Ahzab: 33)

Pertumbuhan generasi suatu bangsa adalah pertama kali berada di buaian para ibu. Ini berarti seorang ibu telah mengambil jatah yang besar dalam pembentukan pribadi sebuah generasi. Ini adalah tugas yang besar! Mengajari mereka kalimat Laa Ilaaha Illallah, menancapkan tauhid ke dada-dada mereka, menanamkan kecintaan pada Al Quran dan As Sunah sebagai pedoman hidup, kecintaan pada ilmu, kecintaan pada Al Haq, mengajari mereka bagaimana beribadah pada Allah yang telah menciptakan mereka, mengajari mereka akhlak-akhlak mulia, mengajari mereka bagaimana menjadi pemberani tapi tidak sombong, mengajari mereka untuk bersyukur, mengajari bersabar, mengajari mereka arti disiplin, tanggung jawab, mengajari mereka rasa empati, menghargai orang lain, memaafkan, dan masih banyak lagi. Termasuk di dalamnya hal yang menurut banyak orang dianggap sebagai sesuatu yang kecil dan remeh, seperti mengajarkan pada anak adab ke kamar mandi. Bukan hanya sekedar supaya anak tau bahwa masuk kamar mandi itu dengan kaki kiri, tapi bagaimana supaya hal semacam itu bisa menjadi kebiasaan yang lekat padanya. Butuh ketelatenan dan kesabaran untuk membiasakannya.

Sebuah Tanggung Jawab

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, yang artinya:

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS. At Tahrim: 6)

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala yang artinya: "Peliharalah dirimu dan keluargamu!" di atas menggunakan Fi'il Amr (kata kerja perintah) yang menunjukkan bahwa hukumnya wajib. Oleh karena itu semua kaum muslimin yang mempunyai keluarga wajib menyelamatkan diri dan keluarga dari bahaya api neraka.

Tentang Surat At Tahrim ayat ke-6 ini, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu `anhu berkata, "Ajarkan kebaikan kepada dirimu dan keluargamu." (Diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Mustadrak-nya (IV/494), dan ia mengatakan hadist ini shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim, sekalipun keduanya tidak mengeluarkannya)

Muqatil mengatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah, setiap muslim harus mendidik diri dan keluarganya dengan cara memerintahkan mereka untuk mengerjakan kebaikan dan melarang mereka dari perbuatan maksiat.

Ibnu Qoyyim menjelaskan bahwa beberapa ulama mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta'ala akan meminta pertanggungjawaban setiap orang tua tentang anaknya pada hari kiamat sebelum si anak sendiri meminta pertanggungjawaban orang tuanya. Sebagaimana seorang ayah itu mempunyai hak atas anaknya, maka anak pun mempunyai hak atas ayahnya. Jika Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Kami wajibkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya." (QS. Al Ankabut: 7), maka disamping itu Allah juga berfirman, "Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang berbahan bakar manusia dan batu." (QS. At Tahrim: 6)

Ibnu Qoyyim selanjutnya menjelaskan bahwa barang siapa yang mengabaikan pendidikan anaknya dalam hal-hal yang bermanfaat baginya, lalu ia membiarkan begitu saja, berarti telah melakukan kesalahan besar. Mayoritas penyebab kerusakan anak adalah akibat orang tua yang acuh tak acuh terhadap anak mereka, tidak mau mengajarkan kewajiban dan sunnah agama. Mereka menyia-nyiakan anak ketika masih kecil sehingga mereka tidak bisa mengambil keuntungan dari anak mereka ketika dewasa, sang anak pun tidak bisa menjadi anak yang bermanfaat bagi ayahnya.

Adapun dalil yang lain diantaranya adalah firman Allah subhanahu wa ta'ala yang artinya:

"dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang dekat." (QS asy Syu'ara': 214)

Abdullah bin Umar radhiyallahu `anhuma mengatakan bahwa Rasulullah shalallahu `alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), "Kaum lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya di rumah, dia bertanggung jawab atas keluarganya. Wanita pun pemimpin yang mengurusi rumah suami dan anak-anaknya. Dia pun bertanggung jawab atas diri mereka. Budak seorang pria pun jadi pemimpin mengurusi harta tuannya, dia pun bertanggung jawab atas kepengurusannya. Kalian semua adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya." (HR. Bukhari 2/91)

Dari keterangan di atas, nampak jelas bahwa setiap insan yang ada hubungan keluarga dan kerabat hendaknya saling bekerja sama, saling menasehati dan turut mendidik keluarga. Utamanya orang tua kepada anak, karena mereka sangat membutuhkan bimbingannya. Orang tua hendaknya memelihara fitrah anak agar tidak kena noda syirik dan dosa-dosa lainnya. Ini adalah tanggung jawab yang besar yang kita akan dimintai pertanggungjawaban tentangnya.

Siapa Menanam, Dia akan Menuai Benih

Bagaimana hati seorang ibu melihat anak-anaknya tumbuh? Ketika tabungan anak kita yang usia 5 tahun mulai menumpuk, "Mau untuk apa nak, tabungannya?" Mata rasanya haru ketika seketika anak menjawab "Mau buat beli CD murotal, Mi!" padahal anak-anak lain kebanyakan akan menjawab "Mau buat beli PS!" Atau ketika ditanya tentang cita-cita, "Adek pengen jadi ulama!" Haru! mendengar jawaban ini dari seorang anak tatkala ana-anak seusianya bermimpi "pengen jadi Superman!"

Jiwa seperti ini bagaimana membentuknya? Butuh seorang pendidik yang ulet dan telaten. Bersungguh-sungguh, dengan tekad yang kuat. Seorang yang sabar untuk setiap hari menempa dengan dibekali ilmu yang kuat. Penuh dengan tawakal dan bergantung pada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Lalu… jika seperti ini, bisakah kita begitu saja menitipkannya pada pembantu atau membiarkan anak tumbuh begitu saja?? Kita sama-sama tau lingkungan kita bagaimana (TV, media, masyarakat,…) Siapa lagi kalau bukan kita, wahai para ibu -atau calon ibu-?

Setelah kita memahami besarnya peran dan tanggung jawab seorang ibu sebagai seorang pendidik, melihat realita yang ada sekarang sepertinya keadaannya menyedihkan! Tidak semua memang, tapi banyak dari para ibu yang mereka sibuk bekerja dan tidak memperhatikan bagaimana pendidikan anak mereka. Tidak memperhatikan bagaimana aqidah mereka, apakah terkotori dengan syirik atau tidak. Bagaimana ibadah mereka, apakah sholat mereka telah benar atau tidak, atau bahkan malah tidak mengerjakannya… Bagaimana mungkin pekerjaan menancapkan tauhid di dada-dada generasi muslim bisa dibandingkan dengan gaji jutaan rupiah di perusahaan bonafit? Sungguh! sangat jauh perbandingannya.

Anehnya lagi, banyak ibu-ibu yang sebenarnya tinggal di rumah namun tidak juga mereka memperhatikan pendidikan anaknya, bagaimana kepribadian anak mereka dibentuk. Penulis sempat sebentar tinggal di daerah yang sebagian besar ibu-ibu nya menetap di rumah tapi sangat acuh dengan pendidikan anak-anak mereka. Membesarkan anak seolah hanya sekedar memberinya makan. Sedih!

Padahal anak adalah investasi bagi orang tua di dunia dan akhirat! Setiap upaya yang kita lakukan demi mendidiknya dengan ikhlas adalah suatu kebajikan. Setiap kebajikan akan mendapat balasan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tidak inginkah hari kita terisi dengannya? Atau memang yang kita inginkan adalah kesuksesan karir anak kita, meraih hidup yang berkecukupan, cukup untuk membeli rumah mewah, cukup untuk membeli mobil mentereng, cukup untuk membayar 10 pembantu, mempunyai keluarga yang bahagia, berakhir pekan di villa. Tanpa memperhatikan bagaimana aqidah, bagaimana ibadah, asal tidak bertengkar dan bisa senyum dan tertawa ria di rumah, disebutlah itu dengan bahagia.

Ketika usia senja, mata mulai rabun, tulang mulai rapuh, atau bahkan tubuh ini hanya mampu berbaring dan tak bisa bangkit dari ranjang untuk sekedar berjalan. Siapa yang mau mengurus kita kalau kita tidak pernah mendidik anak-anak kita? Bukankah mereka sedang sibuk dengan karir mereka yang dulu pernah kita banggakan, atau mungkin sedang asik dengan istri dan anak-anak mereka?

Ketika malaikat maut telah datang, ketika jasad telah dimasukkan ke kubur, ketika diri sangat membutuhkan doa padahal pada hari itu diri ini sudah tidak mampu berbuat banyak karena pintu amal telah ditutup, siapakah yang mendoakan kita kalau kita tidak pernah mengajari anak-anak kita?

Lalu…

Masihkah kita mengatakan jabatan ibu rumah tangga dengan kata `cuma'? dengan tertunduk dan suara lirih karena malu?

Wallahu a'lam

Penulis: Ummu Ayyub
Muroja'ah: Ust Abu Ahmad

Copy paste from Milis myqurn

ps : Idealisme normatif atau realistiskah ditengah kejamnya fitnah dunia ini, bagai buah simalakama

Rabu, 18 November 2009

DILEMA ANTARA AROGANSI DAN KEBENCIAN


Mungkin inilah pilihan hidup, atau mungkin inilah pembelajaran dalam memulai kehidupan, ada yang di untungkan dan ada yang di rugikan, ada yang kalah dan ada yang menang, ada yang diatas ada pula yang di bawah, tetapi mengapa semua tidak mau bercemin hanya ingin mengandalkan arogansi dan saling membenci pada hakekatnya semua kembali kepada diri sendiri, hiduplah dengan bijaksana karena hidup kita bukan semata di dunia tetapi tujuan kita hanyalah kehidupan yang abadi nanti, ingat lah akan kematian arogansi dan kebencian bukanlah jalan yang benar, mari kita berbagi, saling memperbaiki diri dan bercermin, manusia tidak ada yang sempurna, setinggi tingginya kedudukan manusia masih ada yang lebih tinggi lagi begitu juga dengan kebencian yang bisa membuat iman kita goyah karena disana terdapat nafsu syatn yang bergejolak dan akan membelenggu segeralah bertobat kawan dan rekan mari kita duduk bersama, berbagi, saling membantu dan memperingati/menasehati serta saling mendoakan.

Kamis, 10 September 2009

Di Balik Klarifikasi Lengkap Soraya Abdullah (Siapa Tau Bermanfaat)

(Embedded image moved to file: pic11942.jpg)


Soraya Abdullah, mantan artis yang diberitakan menghilang, mengirim email
ke redaksi detikcom. Lewat email itu , Soraya membantah menghilang. Ia juga
menjelaskan hubungannya dengan keluarga tersangka terorisme M Jibril.

Namun sayang, perempuan yang akrab disapa Aya itu sama sekali tidak
menyebut di mana dia tinggal saat ini. Nomor telepon yang tertera pun tidak
dapat dihubungi alias tidak aktif. Dikirimi email, Soraya pun belum
memberikan balasan.

Berikut klarifikasi lengkap Aya lewat email soraya.abdullah@ymail.com itu
yang diterima detikcom, Senin (7/9/2009):

Segala puji hanya bagi Allah Rabb Alam Semesta, Yang Hanya Pada-Nya Segala
Kekuasaan dan Segala Keselamatan seluruh penduduk langit dan bumi, Yang
Menguasai Hari Pembalasan, Yang Menghitung Dengan Cepat Segala Apapun Amal
yang kita lakukan di dunia ini, dan Yang Tidak Akan Tertidur terhadap
hamba-Nya yang terzalimi.

Salam dan Sholawat bagi Baginda yang mulia Rasulullah SAW beserta keluarga,
sahabat-sahabatnya dan seluruh pengikutnya yang setia sampai akhir zaman
nanti.

Assalaamu'alaikum manit taba'a al Hudaa amma ba'du..

Sehubungan dengan maraknya pemberitaan kami (Soraya Abdullah Balvas) di
media massa tentang fitnah keterlibatan kami dengan sekelompok jaringan
teroris (naudzubillah) baik di dalam maupun di luar negeri, dengan ini kami
berusaha ingin mengklarifikasi permasalahan tersebut...Bi idznillah...:

1. Kami mengkaji ilmu agama ditempat Ust. Abu Jibriel (Ayahanda Muhammad
Jibriel Abdurrahman), semenjak april 2007. Isi materi pengajiannya
bersifat umum, seperti fiqh, hadits dan Bahasa Arab, sama dengan
pengajian-pengajian (ahlussunnah) umum lainnya. Siapa saja bisa datang
bergabung mengaji di sini tanpa terkecuali. Kajian tersebut bersifat rutin
semenjak beberapa tahun yang
lalu. Ini bisa dilihat dari ibu ibu yang menghadiri pengajian Ust. Abu
Jibril
baik yang mengenakan penutup wajah (cadar) maupun tidak.

2. Kaitan semenjak itu kami berubah penampilan dengan mengenakan penutup
muka (cadar) adalah karena keinginan pribadi kami dalam menjaga kehormatan
wanita muslimah terlebih dalam keadaan pergaulan metropolitan yang semakin
rusak. Banyak perbuatan tidak senonoh dikarenakan fitnah dari wajah, oleh
karenanya bagi kami, wajah adalah sumber fitnah dan awal dari malapetaka.

Dalam komunitas pengajian Ust. Abu Jibril, pada awalnya yang mengenakan
penutup muka (cadar) hanyalah kami dan istri ust Abu Jibril (Ummu Jibril),
namun atas hidayah-Nya pula akhirnya banyak ibu ibu yang ingin menjaga
kehormatannya dan menghindari fitnah dengan turut mengenakan penutup muka.
Kesadaran ini bukanlah kewajiban ketika mengikuti pengajian Ust. Abu
Jibril. Semoga kebaikan bagi muslimah yang berusaha menjaga kehormatanNya
di tengah badai fitnah yang menimpa kaum muslimin saat ini.

Kamipun tetap mendoakan untuk ibu ibu yang baru belajar Islam agar lebih
terbuka hatinya, meresapkan ilmunya, dan diaplikasikannya syariah Islam
dalam kehidupan sehari hari. Janganlah seperti wanita yang setelah
mengikuti pengajian, kembali mengunjungi cafe cafe untuk berdugem. Ataupun
taubat hanya
pada saat Ramadhan. Naudzubillah...

3. Terkait hubungan kami dengan Arrahmah Media hanyalah sebatas freelance
marketing, terlebih kesibukan kami sebagai orangtua yang tidak bisa
memberikan waktu yang lebih banyak lagi. Namun Alhamdulillah, sedikit ilmu
yang kami dapatkan pada saat kuliah perfilm-an dan pada saat menjadi artis
dapat sedikit membantu mengemas produk produk Arrahmah tersebut. Kami
sangat menghargai
profesionalitas Arrahmah media yang begitu concern memberitakan secara
berimbang perjuangan kaum muslimin di sisi dunia lain yang dikemas dengan
gaya dokumenter. Sebagai seorang muslim, kami hanya mengamalkan sebuah
seruan:

Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara QS. Al Hujurat 10. "Dan
barangsiapa yang bangun dan tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, maka
ia tidak termasuk golongan mereka (kaum muslimin)". (HR Hakim dan Al
Khatib dari Hudzaifah ra.)

Dari Nu'man ibn Basyir, Rasulullah Saw. bersabda: Perumpamaan orang-orang
mukmin yang saling mencintai dan saling menyayangi serta saling mengasihi
adalah bagaikan satu tubuh, apabila sebagian anggota tubuh itu sakit, maka
seluruh tubuhnya ikut merasakan sakit. (HR. Bukhari dan
Muslim).

Bagaimana kesedihan sebagai seorang muslim ketika dia dapat bercengkerama
dengan suami, berkumpul bersama keluarga dan anak anak, bisa jalan jalan
dengan tenang ke mall, makan dengan kenyang di restaurant, tidur dengan
nyenyak di atas kasur yang empuk, selimut tebal dengan pendingin ruangan
yang
sangat sejuk tanpa harus mendengar suara dentuman bom atau desingan peluru,
atau ketakutan dari bom fosfor dari kafir penjajah Amerika Serikat, Israel,
dan kafir harbi muharriban fi'lan lainnya.

Minimal untaian doa yang kami harapkan dari diterbitkannya film dokumentasi
Arrahmah Media ketika di Iraq, dikabarkan bahwa seorang muslimah bernama
Fatimah yang diperkosa oleh tentara kafir pendudukan hingga 9 kali dalam
sehari. Hingga mengandung dan rusak rahimnya. Demikian pula tangis janda
dan
anak anak yang kehilangan suami dan ayahnya dari peperangan yang dunia
terbisu mendiamkannya.

Adapun fitnah fitnah lain yang tidak dapat dipertanggung jawabkan, kami
serahkan kepada Allah atas segala perhitungannya.

4. Keterkaitan Akhi (saudara) Muhammad Jibriel Abdurrahman dengan pendanaan
aksi terorisme Insya ALLAH itu tidak benar. Akhi jibriel hanyalah seorang
wartawan yang profesional. Bagi kami penangkapan ini sekedar bermuatan
politis dan kepentingan semata, dikarenakan Arrahmah berbeda dengan media
lainnya, yang dengan berani menyuarakan perjuangan kaum muslimin secara
lebih transparan. Atas nama kebebasan pers pula, hal ini menjadi bias
dikalangan media informasi di negeri ini. Seorang wartawan pula, memiliki
keinginan kuat menembus sosok sosok yang cukup layak untuk diwawancarai.
Seperti wartawan BBC/Al Jazeera yang berhasil mewawancarai Usama bin Ladin.
Apakah dengannya kemudian mengkaitkan wartawan tersebut dengan terorisme?

Kedzaliman pun nampak pula dengan perpanjangan masa tahanan Akhi Jibriel
hingga 4 bulan tanpa alasan yang layak secara hukum. Dengan berbagai delik
pelanggaran hukum yang sering berubah. Stigmatisasi teroris terhadap akhi
Muhammad Jibriel Abdurrahman adalah pelanggaran HAM, karena persidangan
yang akan memutuskan bersalahpun belum berjalan. Ini merupakan bentuk
penghukuman sepihak tanpa keadilan dan lepas dari praduga tak bersalah.

5. Terkait dengan kepergian kami semenjak beberapa waktu silam. Kami
informasikan bahwa kepergian kami sekedar untuk menunaikan kewajiban orang
tua terhadap pendidikan anaknya untuk memilihkan yang terbaik. Atas dasar
rasa cinta kami terhadap ananda terkait kesehatan pergaulan mereka, maka
kami telah berpindah semenjak awal Bulan Mei 2009, dan sudah kami
konsultasikan kepada keluarga dan rekan-rekan semenjak setahun terakhir.
Kekhawatirkan kami terhadap pergaulan yang tidak sehat terhadap anak-anak
kami, dan berbagai macam dampak mudharat (buruk) terhadap keduanya.
Sebelumnya pula kami berusaha
menemui RT/RW setempat, namun berhubung kendala waktu (beliau hanya bisa
ditemui pada malam hari saja, sedangkan kami -sebagai seorang muslimah yang
berusaha menjaga kehormatan diri- hanya bisa keluar siang) akhirnya kami
gagal menemuinya.

Kemudian kami berpamitan kepada salah satu pengurus DKM (Dewan
Kesejahteraan Masjid) setempat. Di Jakarta pula, kami sekeluarga merasa
jenuh dan kurang berkonsentrasi beribadah. Karena suatu saat nanti, kami
akan dimintai pertanggungjawaban atas pendidikan buah hati kami dihadapan
Allah kelak.

Alhamdulillah, kini kondisi kami sekeluarga dalam keadaan tenang.
Berkonsenterasi untuk mendidik buah hati kami dengan naungan Alquran dalam
setiap saat. Menjadikan ananda sebagai anak solih/ sholeha yang terbebas
dari lingkungan yang tidak Islami.

6. Kami memohon maaf kepada seluruh rekan rekan wartawan media cetak dan
elektronik, atas keterlambatan statement ini. Dikarenakan minimnya media
informasi di lingkungan kami saat ini. Demi perkembangan kebaikan anak
anak, kami singkirkan radio, tv dan lainnya. Di lingkungan kami pun hanya
sekedar CD Player yang hanya kami gunakan untuk melantunkan ayat ayat suci
Al Quran. Kami sekadar mengkhawatirkan pula, fitnah ini juga mempengaruhi
jiwa anak-anak kami.

Maha Suci Allah yg telah membuat kami tuli dan buta atas segala fitnah,
cacian, makian, ghibah dan adu domba media. Di Bulan Suci ini, kami
menghimbau untuk menghentikan membuat sesuatu yg menodai amalan ibadah
kita.

7. Kami berharap kepada seluruh rekan media cetak maupun elektronik untuk
tidak kembali menampilkan foto kami dalam keadaan tidak berhijab
(bercadar), hal itu bagi kami merupakan fitnah baik di dunia dan di
akhirat. Di dunia kami akan menuntut secara hukum atas penampilan foto
tanpa izin kami. Kami tekankan bahwa kami sudah berlepas dari dunia artis
yang penuh fitnah dan malapetaka, kami bersyukur menggantinya dengan
kehidupan Islam yang menyejukkan dan damai. Sungguh Allah mendengarkan doa
hamba yang terdzalimi. Kami berlepas atas apa yang media lakukan, dan
segala perhitungan hanyalah milikNya.

Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan bahwa Nabi SAW telah mengutus Mu'adz ke Yaman
dan Beliau berkata kepadanya : "Takutlah kamu akan doa seorang yang
terzalimi, karena doa tersebut tidak adah hijab (penghalang) diantara dia
dengan Allah". (H.R. Bukhari dan Muslim)

Terakhir kami ingin menyampaikan pesan kepada:

1. Keluarga besar Ust Abu Jibriel, khususnya Akhi Jibriel yg sedang dalam
ujian fitnah ini, semoga ALLAH menuangkan kesabaran dan kekuatan untuk
kalian. Semoga ALLAH membalas dengan pahala yg besar dan rahmatNya yg tiada
batas.

2. Keluarga besar kami yang pastinya kurang nyaman dengan pemberitaan ini,
semoga tabayyun (klarifikasi) ini melegakan kalian. Salam khidmah kami
untuk ibunda yang telah melahirkan, membesarkan dan mendidik anak-anaknya
dengan sepenuh kasih sayang yang tak mampu terbayarkan sampai menjelang
akhir hayat pun, maafkan kami dengan semua fitnah yang berhembus ini, ini
merupakan ujian
kesabaran bagi kita semua, hingga kita kembali di JannahNya bersama. Kami
berharap limpahan doa dari mama agar mampu menjadi wanita sholehah sebagai
syafa'at mama ketika hari perhitungan kelak... Selalu ada doa yang tertuang
di penghujung malam untuk keluarga tercinta.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dlm hadits 'Aisyah radhiyallahu
'anha: "Barangsiapa yang diberi cobaan dengan anak perempuan kemudian ia
berbuat baik pada mereka maka mereka akan menjadi penghalang dari api
neraka".

Abdullah bin 'Abbas radhiyallahu 'anhuma juga meriwayatkan dari beliau
Shallallahu 'alaihi wa sallam: "Tidaklah seorang muslim yg memiliki dua
anak perempuan yang telah dewasa lalu dia berbuat baik pada kedua kecuali
mereka berdua akan memasukkan ke dalam surga".

3. Seluruh kru Arrahmah Media, semoga tetap sabar dan istiqomah dalam
memberitakan dunia Islam secara transparan di tengah badai ujian ini.
Barangkali ujian ini menjadikan Arrahmah Media dapat lebih profesional dari
sebelumnya dan senantiasa mengikhlaskan perjuangan ini semata karena ALLAH,
sehingga pertolongan itu datang. Ingatlah, sesungguhnya pertolongan ALLAH
itu dekat.

Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka
berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada
dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dengan memberi
balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).(QS. Al Fath
18).

4. Seluruh sahabat-sahabat yang mencintai dan kami cintai karena ALLAH,
yang kerap mengkhawatirkan kami, mendoakan kami dalam setiap rukuk dan
sujudnya, jazakumulloh khoiron katsiron untuk tidak sedikit pun mempercayai
berita itu. Fitnah ini sudah termaktubkan dalam haditsnya.

Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Akan terjadi fitnah di mana orang yang
duduk (menghindar dari fitnah itu) lebih baik daripada yang berdiri dan
orang yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan dan orang yang
berjalan lebih baik daripada yang berlari (yang terlibat dalam fitnah).
Orang yang mendekatinya akan dibinasakan. Barang siapa yang mendapatkan
tempat berlindung darinya,
hendaklah ia berlindung. (Shahih Muslim No.5136)

"Bersegeralah kalian melakukan amal shalih sebelum datangnya fitnah, di
mana fitnah itu seperti potongan-potongan malam yang gelap gulita.
Pagi-pagi seorang masih beriman, tetapi di sore hari telah menjadi kafir
dan sore hari seseorang masih beriman, kemudian di pagi harinya sudah
menjadi kafir" (HR. Muslim: Kitabul Iman no. 269)

Mari kita teguhkan pendirian kita dalam perjuangan yang penuh onak dan duri
ini, sungguh jannah (surga) itu sudah ada di depan kita. Hingga janji Allah
untuk mengembalikan Islam di muka bumi terwujud

"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu
dan mengerjakan amal-amal yang sholeh bahwa Dia sungguh benar-benar akan
menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan
orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi
mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan dia benar-benar akan
menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman
sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu
apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu,
maka mereka itulah orang-orang yang fasik". (Surat An Nuur (24) ayat 55)

"Urusan (Islam) ini benar-benar akan mencapai apa yang dicapai oleh malam
dan siang (yakni seluruh dunia), dan Alloh tidak akan menyisakan sebuah
rumah pun di muka bumi ini, baik rumah di kota maupun rumah di desa
(penduduk nomaden), kecuali Alloh akan memasukkannya ke dalam agama ini,
dengan
kemuliaan orang yang mulia atau kehinaan orang yang hina. Kemuliaan yang
dengannya Alloh memuliakan Islam dan kehinaan yang dengannya Alloh
menghinakan kekafiran" (HR. Ahmad, Ath-Thabrani, Al Hakim, Ibnu Mandah dan
Ibnu Hiban).

Akhirul kalam, kami menyatakan tabayyun (klarifikasi) ini dengan
sebenar-benarnya kami tuliskan, sehingga Insya ALLAH dapat
dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya kelak.

Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa
suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan
suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang
menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS. al-Hujurat (49) : 6)

Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka,
sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu
mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing
sebahagian yaang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging
saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan
bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha
Penyayang. (QS. al-Hujurat (49) : 12)

Wassalammua'alaikum manit taba'a al hudaa

Al faqir IlaLLOH..


Soraya Abdullah Balvas
and I'm just a piece of dust....

Copy Paste langsung Dari Yahoo News

Selasa, 08 September 2009

Fw: Selamat Jalan, Sahabat

Selamat Jalan, Sahabat

"Aku ingin hidup lama. Terlalu serakahkah aku jika berharap untuk hidup?
Jika memang harus mati cepat, aku sangat ingin jadi rumput di surga nanti.
Bisa tidak, ya? Aku tidak mungkin jadi bidadari. Aku hanya ingin menjadi
rumput saja." (Lin, 25 Desember 2006)

***

SAYA pertama kali mengenal sosoknya di tahun 2003 silam. Seorang gadis
Chinese. Lin atau Alin, saya lebih suka memanggilnya demikian saat
menyapanya. Nama lengkapnya Yoanita Afrianty Lin Che Ying. Dia
mendeskripsikan arti namanya itu lewat sebuah pesan singkat di bawah ini.

"Dari dulu aku tahu kalau arti namaku ada hubungannya dengan cinta. Tapi
aku baru tahu kalau artinya ternyata "Tuhan adalah Cinta". Asal namaku dari
bahasa Yunani. Papa ingin aku selalu menebarkan cinta kasih dimanapun aku
berada." (Lin, 29 Januari 2006)

Lin adalah salah seorang sahabat terbaik yang pernah saya miliki. Kami
hanya beberapa kali sempat berjumpa di Yogyakarta, tetapi kami lebih sering
berkomunikasi via SMS dan email.

Sore itu, 6 Nopember 2007, tepat pukul 16:19 WIB. Ponsel saya berdering.
Dari seorang sahabat akrab. "Apa benar Lin telah wafat seminggu yang lalu
setelah operasi?" Ia bertanya, atau lebih tepatnya meminta klarifikasi.

Saya terdiam cukup lama mendengar pertanyaan itu sebelum menjawabnya.
Hampir dua minggu sebelumnya, Lin masih mengirim sebuah SMS pada saya.
Sebuah SMS yang isinya terasa janggal. Saya baru menyadarinya setelah
membaca kembali SMS terakhirnya itu.

"U. Setta, aku pergi sekarang. Jaga dirimu baik-baik. Berjanjilah untuk
selalu bahagia. Maafkan aku. Terima kasih atas semuanya. Hik-hik-hik, aku
pergi. Assalamu 'alaikum wr. wb." (Lin, 26 Oktober 2007)

Ucapan salam dalam pesan singkat itu terletak di akhir. Seperti orang yang
sedang berpamitan.

Dan, setelah konfirmasi ke salah seorang anggota keluarganya, benar Lin
telah kembali ke haribaanNya beberapa waktu sebelumnya. Sebelum naik ke
meja operasi akibat komplikasi beberapa penyakit yang sudah lama
dideritanya: kanker otak, kanker darah, TBC usus, dan beberapa penyakit
lainnya.

Inna lillahi wa inna ilaihi roji'uun. Semoga kembali ke sisi-Nya adalah
yang terbaik untukmu, Sahabat.

***


Lin, mengenangmu kembali adalah belajar tentang keceriaan menikmati hidup
dalam belitan penyakit, belajar tentang semangat hidup, belajar tentang
cinta dan empati pada sesama, belajar tentang indahnya persahabatan, juga
belajar tentang pemaknaan atas keagungan-Nya.

"Aku kena TBC usus. Keren ya namanya? Hehehe, tapi kok gak sengetop aku ya?
Perlu dianalisa nih! Oya, aku turun 7 kg! Pantas kalau jalan seperti
melayang-layang. But don't worry! I'm gonna be OK! Sure! Insya Allah! Coz I
know God with me." (Lin, 26 Agustus 2005)

"Alhamdulillah, aku lagi sakit parah. Mungkin harus dioperasi lagi yang
kedua. Amandel. Sudah beberapa hari tidak bisa ngomong dan makan/minum.
Kekebalan tubuhku sangat jelek. Aku kan lahir prematur, sudah bagus bisa
hidup seperti bayi lain. Tapi aku lelah sakit terus." (Lin, 30 Nopember
2005)

"Hidup ini memang penuh perjuangan. Dunia ini bukan untuk seorang pengecut,
tetapi untuk mereka yang tak pernah lelah dan berani berjuang menjalani
hidup. Manusia lahir dengan masalahnya sendiri. Bahkan bayi pun dituntut
untuk berjuang menyampaikan rasa laparnya. Setiap orang diberi ujian yang
berbeda. Karenanya, Tuhan, aku berjanji akan selalu berjuang." (Lin, 31
Desember 2006)

"Bagaimana aku makan jika membayangkan saudara-saudaraku di pengungsian?
Mereka sudah makan belum ya? Aku merasa seperti penjahat. Di luar sana
banyak yang kena musibah, kenapa aku malah tiduran! Aduuh, aku pengin ke
Palestina, Libanon, Pangandaran—saat dihantam tsunami. Pasti keren. Kapan
aku bisa ke sana?" (Lin, 7 Mei 2006)

"A tree is known by its fruit, a man by his deed. A good deed is never
lost, he who saws courtesy, reaps friendship; and he who plants kindness,
gathers love." (Lin, 28 Pebruari 2007)

"I breathed a song into the air. It fell to earth I knew not where and the
song from the beginning to end. I found again in the heart of a friend."
(Lin, 2 Maret 2007)

"Hiasilah mimpimu dengan tetesan air sembahyang. Lelapkan matamu dengan
alunan zikrullah. Selimutkan dirimu dengan kalimat syahadat. Alaskan
tidurmu dengan doa." (Lin, 21 Maret 2007)

"Allah lebih canggih dari video pengintai ya? Subhanallah banget deh. Tapi
sebel, lagi ngapa-ngapain aja perasaan selalu dilihatin Tuhan. Aku kan jadi
malu. Grogi. Gak PD. Aduuuh!!" (Lin, 21 Mei 2006)

Kami, sahabat-sahabatmu, akan mengenangmu sebagai sosok yang selayaknya
kami kenang. Kesungguhanmu membaca tujuh juz Al-Qur'an dalam semalam di
malam i'tikaf Ramadhan terakhirmu, akan kami coba ikuti, Lin.

Selamat datang di haribaan-Nya. Selamat berjumpa dengan kekasih sejatimu.
Kami yakin, itu tempat yang layak untukmu. Bahkan tidak sekadar menjadi
rumput di sisi-Nya. Semoga.

***

14 April 2oo9 o7:29 a.m.

*) Hingga Ramadhan hari kelima tahun ke-2 setelah wafatmu, aku belum bisa
menyamai rekormu membaca 7 juz Al-Qur'an dalam semalam, Lin. Tempatkan dia
di tempat terbaik di sisi-Mu, Robb. Aamiiin.

Source link: http://setta81.multiply.com/journal/item/78

Minggu, 06 September 2009

SUPPORT FOR INTERNATIONAL HIJAB SOLIDARITY DAY

(Embedded image moved to file: pic06334.jpg)

SUPPORT FOR INTERNATIONAL HIJAB SOLIDARITY DAY

DEFINISI JILBAB

Diterangkan dalam kamus al Muhith, jilbab adalah pakaian yang luas untuk
wanita yang dapat menutupi pakaian rumahnya seperti milhafah (mantel).

Tafsir Jalalain (jilid 3:1803) memberikan arti jilbab sebagai kain yang
dipakai seorang wanita untuk menutupi tubuhnya.

Jauhari dalam Ash Shihah mengatakan jilbab adalah kain penutup tubuh wanita
dari atas sampai bawah.

Khaththath Usman Thaha dalam Tafsir wa Bayan menjelaskan jilbab adalah
apa-apa yang dapat menutupi seperti seprai atas tubuh wanita hingga
mendekati tanah.

Fiqh Sunnah oleh Sayyid Sabiq Jilid 7 (Edisi Indonesia) menerangkan jilbab
adalah baju mantel.

Dalam Kitab Mujam al Wasith hal 128 jilbab diartikan sebagai pakaian yang
menutupi seluruh tubuh atau pakaian luar yang dikenakan diatas pakaian
rumah seperti mantel.


KEWAJIBAN BERJILBAB

Kewajiban berjilbab diterangkan pada Qur'an surat Al-Ahzab:59 dan An-Nur:31
sebagai berikut:

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan
isteri-isteri orang mu'min: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke
seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk
dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang. (Al-Ahzab:59)

Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan
pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan
perhiasannya, kecuali yang nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka
menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya
kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau
putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara
laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau
putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau
budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak
mempunyai keinginan atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat
wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan
yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai
orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (An Nuur:31)


BATAS AURAT WANITA

Batas aurat wanita adalah wajah dan telapak tangan sebagaimana disebutkan
dalam hadits:

Hadis riwayat Aisyah r.a., bahwasanya Asma binti Abu Bakar masuk menjumpai
Rasulullah dengan pakaian yang tipis, lantas Rasulullah berpaling darinya
dan berkata, "Hai Asma, seseungguhnya jika seorang wanita sudah mencapai
usia haid (akil balig) maka tidak ada yang layak terlihat kecuali ini,"
sambil beliau menunjuk wajah dan telapak tangan. (HR Abu Daud dan Baihaqi).


SYARAT-SYARAT PAKAIAN MUSLIMAH

Pada dasarnya seluruh bahan, model, dan bentuk pakaian boleh dipakai,
asalkan memenuhi syarat-syarat berikut.

1. Menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.
2. Tidak tipis dan transparan.
3. Longgar dan tidak memperlihatkan lekuk-lekuk dan bentuk tubuh (tidak
ketat).
4. Bukan pakaian laki-laki atau menyerupai pakaian laki-laki.
5. Tidak berwarna dan bermotif terlalu menyolok. Sebab, pakaian yang
menyolok akan mengundang perhatian laki-laki. Dengan alasan ini pula, maka
membunyikan (menggemerincingkan ) perhiasan yang dipakai tidak
diperbolehkan walaupun itu tersembunyi di balik pakaian.

Tristin / BTC

Jumat, 28 Agustus 2009

Ta'niah Untuk Sahabatku


Walaupun cobaan bertubi-tubi datang ukhti,tapi ukhti tetap tersenyum...rekan dan kawan saling bahu membahu membantu dan akhirnya Alhamdulillah ukhti terlepas dari belenggu, itu semua berkat doa dan dukungan rekan, saudara seiman dan atas Izin Allah karena jika kita semua percaya kepada Kekuasaan-NYA isya Allah yang tidak mustahil akan menjadi musatahil, dengan keteguhan iman yang ukhti tancapkan serta dukungan doa dari semua, kebebasan pun dirasakan, mungkin inilah indahnya Islam saling membantu dan memperjuangkan kala saudara kita terkena musibah ataupun cobaan yang datang mendera kita bersatu-padu saling membantu, atas dasar keyakinan iman yang kuat InsyaAllah semua tercapai, walau disana sekarang ukhti sudah menempuh hidup baru, mudah2 keimanan yang ukhti rasakan dalam agama yang baru nan suci ini semakin meningkat insya Allah kita saling mendo'akan dan mudah2 semua keluarga ukhti menerima keputusan ukhti ketika berpindah ke Agama Islam Lurus nan Suci ini, dengan lapang dada..Amin Ya Rabbal Alamin Ya Rabb...

Kamis, 13 Agustus 2009

Quran + Terjemaahan dalam Ms.Word


Alhamdulillah setelah mencari kesana kemari, dan terkadang untuk membuat bisamillah dalam awal surat di word kita harus insert gambar dan terkadang bilamana kita ingin membuat suatu ayat dengan tafsirnya yah terkadang manual sambil melhat tafsir Alquran dan terjemaahan tetapi dengan adanya plugin quran in word sangatlah membantu. pokonya powerfull lah apalagi di dukung dengan beberapa bahasa negara lainnya cuman paket bahasa kita download masing2 baru setealh di dowload di extratc ke tempat dimana kita instal plugin quran in word,Tapi jangan senang dulu plugin quran in hanya berlaku di Ms.Word 2000~2003. jika anda berminat silahkan download disini
tetapi bila ingin mengunjungi webnya langsung juga boleh langsung aja kesini myquran.org

Selasa, 11 Agustus 2009

Kewajiban dan Hak Muslim/mah terhadap mualaf (Pengajian Bulanan Majlis Ta'lim Al'hidayah)



Alhamdulillah walaupun baru sempat di posting, tapi mudah2an ikhwan dan akhwat sekalian dapat mengakajinya lebih dalam lagi..

Alhamdulillah hari sabtu kemarin pengajian terlaksana dengan baik di salah satu rumah pengurus dan anggota MTV dengan mengusung tema "Kewajiban dan Hak Muslim/mah terhadap mualaf" yang dibawakan oleh Ustadz Salmin Syahron SAg berikut intisari dari isi ceramah beliau semoaga bermanfaat.

Kenapa sesorang bisa masuk Islam:

1. Dari Pengkajian sendiri atau Analisa Ilmu

contohnya banyak sekali mantan pendeta yang masuk Islama di karenakan ketidak
puasannya mereka atas agama yang mereka anut sehingga mereka mengkajinya dari
beberapa sumber baik itu Al-Quran Sendiri atau pun As Sunnah dan juga dari
beberapa buku atau kitab dan masih banyak lagi sehingga mereka membandingkan
agama yang mereka anut dengan Islam dan ternyata setelah di pelajari dengan
analisa yang sangat kuat mereka di berikan hidayah oleh Allah untuk kembali ke
kesucian dengan kembali Ke Dinul Islam seperti ustadjah Irene Handoyo dari
seorang
pendeta menjadi Ustadjah

2. Karena Mimpi

ketika sebelumnya dia tidak beragama islam dengan hidyah Allah orang tersebut
bermimpi menegani Islam bakhan mungkin di temukan dengan RAsulullah dalam
mimpinya sehingga ketika terbangun dari mimpi dia pun kembali kekesucian dan
beralih menuju ke Agama yang lurus Yaitu Islam.

3. Karena Nikah

Karena salah satu syarat pernikahaan orang Islam adalah kedua2nya harus menjadi
seorang muslimin atau muslimah jadi dengan otomatisnya bila calon kita non muslim
dia harus berpindah agama dahulu karena bila tidak itu merupakan suatu perjinahaan

Tantangan Bagi Seorang Mualaf:

1. Tantangan Pemahaman Agama
Jelas karena dalam islam sendiri banyak sekali tata cara dan mua'amalah yang harus di pelajari agar bagai mana memupuk keimanan seornag mualaf menjadi kuat dan paham betul mengenai islam sehingga ia tidak terjerumus kembali ke agam lain, hal ini bisa dilakukan dengan mengikuti kajian2 keagamaan baik secara bulanan, mingguan bahkan harian sehingga dengan cepat ia bisa memperkuat aqidahnya

2. Tantangan Keluarga

Adanya intervensi atau pengucilan dari keluraga dan hal ini sangat mungkin karena telah beda agama dengan keluarga sehingga semuanya serba di boikot,dan mungkn bisa diasingkan dari lingkungan. Nah kita sebagai sesama muslim dalam hal ini hanya bisa mendo'akannya dan meminta kepada Allah agar Aqidahnya tetap terjaga dan semakin meningkat

3. Tantanagan Ekonomi

Pemutusan kerja/ ataupun jatah finansial dari keluarganya di hentikan otomatis sebagia sesama muslim kita bersaudara dan disinilah kita berperan penting sebagai keluarga barunya harus siap mambantu memberikan sumbangan baik itu berupa pikiran
ataupun materil.

Mungkin hanya ini yang dapat saya tuliskan karena hanya ini yang saya daptkan dalam pegajian bualan dari MTV ini...

dan kepada Saudaraku muslimah nun jauh di sana "Tetaplah Berjuang...InsayaAllah Allah selalu Melindungi mu...baik dalam duka ataupun senang..Kita hrus tetap yakin karena itu adalah jalan Allah untukmu agar bisa selalu tetap istiqomah di jalan Allah...Kami disini salalu mendukungmu dan mendo'akan mu ...Allahu Akhbar..Allahu AKhbar..

Wassalam

buldanich
http://buldanich.blogspot.com

Minggu, 26 Juli 2009

Surat Untuk Ukhty Jenny Hamidah Nurhasanah

Dear Jenny,

Assalamu'alaykum ukhty

Maafkan aku jika engkau tak berkenan aku menulis ini, maafkan aku jika engkau tak ingin orang banyak tau tentang apa yang terjadi. Namun semoga engkau memaafkanku, saat engkau tau alasanku menulis ini kekhawatiran akan keselamatanmu sangat menyiksa hatiku.

Saat menulis ini , di sudut mataku telah mengambang butiran bening yang siap mengalir, aku menangis ukhty, saat aku menyadari bahwa engkau saudariku sedang di uji dengan ujian yang berat, saat engkau di hadapkan pada berbagai masalah karena keIslamanmu, sedang kami tidak berdaya di sini, aku menangis ukhty, saat aku sadar aku begitu merindukanmu.

Ku baca firman Allah dalam Al Qur'an surat Al Insyirah ayat 5 dan 6, "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan" hingga dua kali berturut-turut Allah menegaskannya , betapa Dia ingin kita hamba-hamba Nya percaya bahwa kesulitan ini tidak akan lama.

Masih jelas kenangan itu, saat akhirnya penantian lamamu mengikrarkan syahadat di saksikan Allah dan kami terlaksana, saat akhirnya dunia menyaksikan bahwa engkau telah menjadi muslimah.

Masih jelas kenangan itu, saat aku dan akhwat lainnya memeluk erat dan mencium kedua pipimu, karena kami sadar engkau telah menjadi saudari kami karena Allah.

Masih jelas kenangan itu, saat orang-orang tertegun menjumpaimu di mushola untuk melaksanakan sholat lima waktu, dan aku tau ukhty , mereka turut terharu, betapa keisalamanmu telah menjadi cambuk tersendiri bagi keimanan kami untuk menjadi lebih baik.

Masih jelas kenangan itu, saat engkau mengangguk setuju bahwa Ramadhan tahun ini engkau harus bisa membaca Al Qur'an, dan kemudian engkau belajar mengeja huruf-huruf hijaiyah bersamaku sekali sore itu, tak putus do'aku ukhty , semoga Allah mengabulkan keinginanmu.

Masih jelas kenangan itu, saat engkau bercerita tentang syahidah yang rela di penggal oleh kedua orang tuanya demi keIslamannya, juga saat engkau bercerita menjadi ma'mum dalam barisan sholat di masjid Istiqlal, jauh sebelum ikrar syahadat engkau laksanakan, dan aku tau ukhty sejatinya engkau telah menjadi muslimah sejak lama.

Ukhty, begitu besar harapanku engkau membaca ini, engkau harus tau bahwa kami di sini tidak akan pernah menyerah memperjuangkan kebebasanmu memeluk agama Islam , bahwa do'a -do'a kami di iringi tetesan air mata ada di setiap sujud panjang kami, dan engkau harus percaya ukhty bahwa do'a para mukmin untuk mukmin lainnya di aminkan oleh malaikat dan Allah pasti mengabulkannya.

Jenny Hamidah Nurhasanah,
Subhanallah, indahnya nama itu ukhty, nama yang InsyaAllah akan turut menguatkan perjuanganmu untuk kembali kesini, untuk bersama kami kembali. Bersabarlah ukhty, kami menunggumu untuk melihat langsung saat engkau mengenakan jilbab merah ini.
Image and video hosting by TinyPic

Wassalamu'alaykum,

Saudarimu

NB. Jenny, engkau tidak lupa khan? kita akan ziarah ke Penyengat bersama , pekan ini?

Kamis, 02 Juli 2009

Alhamdulillah...Jenny Lee menjadi Jenny Hamidah Nurhasanah


Alhmdulillah Ya rabb...pagi ini dapat telepon dari senior saya menyampaikan kabar gembiranya bahwa rekan kerja kita ahwat Jenny Lee berubah nama menjadi Jenny Hamidah Nurhasanah yang tiada lain menjadi seorang Muslimah atau wanita muslim, Pak Azhari Abas selaku ketua MUI Btam yang telah mengislamkannya dan semoga semua apa yang telah dia cita..citakan tercapai dan selalu tetap istiqomah dengan keputusannya...mungkin saya pribadi belum begitu mengenal sosok seorang Jenny tapi awal perkenalan kami tidak lah terlalu susah malah karena dia sendiri seorang wanita yang gampang dan supel dalam bergaul, yang selalu tersenyum walaupun agak susah sih...he..he..(Itu Dulu...)dia sendiri adalah seorang wanita keturunan china atau thionghowa dan mungkin dengan hidayah Allah yang di berikan kepadanya melalui rekan atau kawan dekatnya dan seringnya dia membaca berbagai kisah mengenai Islam dan saya sendiri pernah mendengar dia sering menjalankan puasa pas umat muslim menjalankan puasa Ramadhan. Suatu Hari pernah dia meminta saya agar klo ada artikel islami di kirim ke alamat emailnya dan mungkin inialah yang namanya hidayah, karena selain kepada saya mungkin dia sering membaca dan menerima beberapa tulisan mengenai islam dari rekan kerja yang lain...Mungkin Hanya Ini dulu yang baru bisa saya Sampaikan lain waktu saya sambung lagi...Wassalam..

"SEMOGA AHWAT MENJADI SEORANG WANITA SHOLEHAH DAN SELALU BERKOMITMEN DAN TETAP ISTIKOMAH DENGAN MENJALANKAN KEHIDUPAN YANG BARU YANG PUTIH, SUCI DAN BERSIH BAGAIKAN SEORANG BAYI YANG BARU LAHIR DARI RAHIM SORANG IBU...ALLAHU AKHBAR...ALLAHU AKHBAR..DAN JANGAN LUPA TERUS BERUSAHA UNTUK MENJADI WANITA MUSLIMAH YANG SHOLEHAH DAN SELALU MENJAGA AURAT DARI PANDANGAN KAUM ADAM JANGAN SAMPAI MENGUMBARNYA"

Senin, 15 Juni 2009

Pembentukan Kepengurusan MTV 2009

Assalamualaikum Wrwb,

Kami pengurus MTV di sekupang tadi siang mengadakan pertemuan untuk memilih
ketua dan wakil ketua MTV sebagai pengganti mas Agus dan Sandi.
Alhamdulillah untuk posisi ketua dan wakil ketua di MTV sudah di putuskan
yaitu untuk ketua mas Rokhadi dan wakilnya mas Nurul fuadi.

Pertemuan ini di hadiri oleh :
Sandi Irawan,
Netty Yulianti,
Sutini,
Nurul Fuadi,
Rokhadi,
Asnan Rifai,
M Efendi.

Yang mewakili pengurus dan anggota MTV di sekupang yang sudah di bicarakan
dengan pengurus lainnya di BTC.
jadi untuk kepengurusan selanjutnya,selepas saya tidak di Volex lagi adalah
sebagai berikut.

(See attached file: pengurus MTV.doc)

Demikian pemberitahuan ini saya sampaikan agar diketahui oleh semua.
Wasalamualaikum wrwb

Senin, 04 Mei 2009

Tugas Wanita Berdasarkan Hadist Nabi Muhammad SAW

Suatu saat Rosulullah di tanya oleh Asma' binti Zaid bin Sakan Al-Anshari. " Ya Rosulullah, saya adalah wakil-wakil wanita di belakangku, kaum Muslimat secara keseluruhan dan istri-istri orang mukmin. Mereka bertanya seperti yang akan ku tanyakan kepadamu, pandangan mereka seperti pandangan saya, suara saya adalah suara mereka. Sesungguhnya Allah mengutus Anda untuk kaum laki-laki dan kaum wanita . Kami beriman dan akan mengikuti semua ajaran Anda. Ya Rosulullah kami kaum wanita merasa segala-galanya serba terbatas , hanya duduk di rumah sebagai obyek penyaluran keinginan lelaki dan mengandung anak-anak mereka. Sebaliknya laki-laki dapat berkumpul , shalat berjamaah , mendatangi jenazah, berjihad, dan sebagainya. Bila mereka pergi berjihad kami hanya tinggal di rumah memelihara anak-anak dan harta mereka , Wahai Rosulullah , apakah kami mendapatkan bagian dari pahala mereka?"

Rosulullah takjub mendengar pertanyaan kritis dari wanita yang di wakili Asma'. Beliau kemudian menoleh kepada para sahabat sambil berkata "Apakah kalian pernah mendengar perkataan wanita lebih baik dari ini dengan pengetahuan agamanya yang begitu dalam?"

"Tidak ya Rosulullah" jawab para sahabat. Kemudian Rosulullah menjawab " Wahai Asma' , beritahukanlah kepada wanita-wanita yang kau wakili bahwa pergaulannya yang sangat baik kepada suaminya, berusaha mendapatkan keridaan suaminya dan mengikuti jejaknya yang baik akan mengimbangi pahala yang di dapat kaum lelaki . Pahala wanita yang berada di rumah sama besarnya dengan pahala lelaki yang berjuang dan berbuat di luar rumah. Itu pahala bagi kaum wanita yang taat dan patuh kepada suami mereka . Maka pergilah engkau sekarang dan beritahu wanita-wanita yang kau wakili tentang itu!"

Dari sabda Rosulullah itu di petik dasar yang sangat berharga mengenai pembagian tugas antara kaum wanita dan kaum lelaki , yakni :
1. Tugas hakiki kaum istri adalah mengabdi, menjaga , dan melayani suami, memperhatikan hal-ihwal dirinya.
2. Mendidik dan mengasuh anak-anak
3. Menjadi ratu rumah tangga yang berperan penting dalam kerajaannya (rumahnya). Peranan dan tugasnya menghantarkan anggota keluarga menuju kebahagiaan sejati.

Di kutip dari buku "Perempuan-perempuan Al Qur'an" hal 25-26 oleh Dr. Abdurrahman Umairah, penerbit Himmah Publishing House

Post by Tini Syifa

Rabu, 29 April 2009

Mengapa Babi Haram...?

Ada orang asing (ilmuwan) bertanya kepada seorang Ulama mengenai hewan babi.
Ilmuwan : Haramnya hewan babi bagi umat Muslim adalah disebabkan karena banyaknya parasit Dan kotoran dalam hewan ini. Dengan semakin canggihnya ilmu kedokteran, bukannya mungkin nantinya hewan babi dapat dibersihkan dari Virus Dan parasit yang mematikan ini? Apakah nantinya hewan babi yang bersih akan menjadi halal?

Ulama : Haramnya babi bukan karena hal itu saja. Tetapi Ada sifat Babi yang sangat diharamkan untuk umat Islam?

Ilmuwan : Apakah itu?

Ulama : Coba anda buat 2 (dua) kandang.
Dimana 1 (satu) kandang isi dengan 2 (dua) ekor ayam jantan Dan 1 (satu) ekor ayam betina.
1 (satu) kandang lagi isi dengan 2 (dua) ekor babi jantan Dan 1 (satu) ekor babi betina.
Apakah yang terjadi pada masing2 kandang tersebut? Bisakah anda menerkanya!! !

Ilmuwan : Tidak bisa!!!!????

Ulama : Mari Kita lihat bersama-sama sekarang.
Pada kandang pertama dimana Ada 2 (dua) ekor ayam jantan Dan 1 (satu) ekor
Ayam betina, yang terjadi adalah 2 (dua) ekor ayam jantan tersebut
Berkelahi dahulu untuk memperebutkan 1 (satu) ekor ayam betina tersebut sampai Ada
Yang menang Dan kalah. Dan itu sesuai dengan Kodrat Dan Fitrah manusia diciptakan Allah SWT.

Ilmuwan : Pada kandang Babi?

Ulama : Ini yang menarik. Pada kandang kedua, yaitu kandang berisi 2(dua) ekor babi jantan Dan 1 (satu) ekor babi betina. Ternyata 2 (dua) ekor babi jantan tidak berkelahi untuk memperebutkan 1 (satu) ekor babi betina,tetapi yang terjadi adalah 2 (dua) ekor babi jantan tersebut malahan menyetubuhi secara beramai-ramai 1 (satu) ekor babi betina tersebut Dan juga terjadi hubungan Homoseksual antara kedua ekor babi jantan setelah selesai dengan is betina. Hal inilah yang jelas2 bertentangan dengan Fitrah umat manusia.Bilamana umat Islam ikut2an memakan babi maka ditakutkan umat Islam akan mempunyai sifat Dan karateristik seperti babi ini.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma'in, Wallahu A'lam Bish-shawab.

"Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan)yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, Dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, Dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala.
Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah Kefasikan. Pada Hari ini orang-orang kafir telah putus ASA untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut. Kepada mereka Dan takutlah kepada-Ku. Pada Hari telah Ku-sempurnakan untuk Kamu agamamu, Dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, Dan telah Ku-ridhlai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang". ( QS. Al-Maidah (5) : 3).

Mengapa Islam mengharamkan Babi (Terjemahan) Berikut ini tulisan mengenai pengharaman darah Dan babi dalam Islam, diulas dari sudut pandang Logika Dan ilmu Kesehatan.

Bob: Tolong beritahu saya, mengapa seorang Muslim sangat mementingkan
Mengenai kata-kata "Halal" Dan "Haram"; apa arti dari kata-kata tersebut?

Yunus: Apa-apa yang diperbolehkan diistilahkan sebagai Halal, Dan apa-apa yang tak diperbolehkan diistilahkan sebagai Haram, Dan Al-Qur'an lah yang menggambarkan perbedaan antara keduanya.

Bob: Dapatkah anda memberikan contoh?
Yunus: Ya, Islam telah melarang segala macam darah. Anda akan sependapat bahwa analisis kimia dari darah menunjukkan adanya kandungan yang tinggi dari uric acid (asam urat?), suatu senyawa kimia yang bisa berbahaya bagi kesehatan manusia.

Bob: Anda benar mengenai sifat beracun dari uric acid, dalam tubuh manusia, senyawa ini dikeluarkan sebagai kotoran, Dan dalam kenyataannya Kita diberitahu bahwa 98% dari uric acid dalam tubuh, dikeluarkan dari dalam darah oleh Ginjal, Dan dibuang keluar tubuh melalui air seni.

Yunus: Sekarang saya rasa anda akan menghargai metode prosedur khusus dalam penyembelihan hewan dalam Islam.

Bob: Apa maksud anda?

Yunus: Begini… seorang penyembelih, selagi menyebut nama dari Yang Maha Kuasa, membuat irisan memotong urat nadi leher hewan, sembari membiarkan urat-urat Dan organ-organ lainnya utuh.

Bob: Oh begitu… Dan hal ini menyebabkan kematian hewan karena kehabisan darah dari tubuh, bukannya karena cedera pada organ vitalnya.

Yunus: Ya, sebab jika organ-organ, misalnya jantung, hati, atau otak dirusak, hewan tersebut dapat meninggal seketika Dan darahnya akan menggumpal dalam urat-uratnya Dan akhirnya mencemari daging. Hal tersebut mengakibatkan daging hewan akan tercemar oleh uric acid, sehingga menjadikannya beracun; hanya pada masa kini lah, para ahli makanan baru
Menyadari akan hal ini.

Bob: Selanjutnya, selagi masih dalam topik makanan; Mengapa para Muslim melarang pengkonsumsian daging babi, atau ham, atau makanan lainnya yang terkait dgn babi ?

Yunus: Sebenarnya, diluar dari larangan Al-Qur'an dalam pengkonsumsian babi, bacon; pada kenyataannya dalam Bible juga, pada Leviticus bab 11, ayat 8, mengenai babi, dikatakan, "Dari daging mereka (dari "swine", nama lain buat "babi") janganlah kalian makan, dan dari bangkai mereka, janganlah kalian sentuh; mereka itu kotor buatmu."Lebih lanjut lagi, apakah anda tahu kalau babi tidak dapat disembelih di leher karena mereka tidak memiliki leher; sesuai dengan anatomi alamiahnya ?
Muslim beranggapan kalau babi memang harus disembelih dan layak bagi konsumsi manusia, tentu Sang Pencipta akan merancang hewan ini dengan memiliki leher. Namun diluar itu semua, saya yakin anda tahu betul mengenai efek-efek berbahaya dari komsumsi babi, dalam bentuk apapun, baik itu pork chops, ham, atau bacon.

Bob: Ilmu kedokteran mengetahui bahwa ada resiko besar atas banyak macam penyakit. Babi diketahui sebagai inang dari banyak macam parasit dan penyakit berbahaya.

Yunus: Ya, dan diluar itu semua, sebagaimana kita membicarakan mengenai kandungan uric acid dalam darah, sangat penting untuk diperhatikan bahwa sistem biochemistry babi mengeluarkan hanya 2% dari seluruh kandungan uric acidnya, sedangkan 98% sisanya tersimpan dalam tubuhnya.

Konsumen daging babi sering mengeluhkan bau pesing pada daging babi.
Nah, ternyata menurut penelitian ilmiah, hal tsb. disebabkan karena praeputium babi sering bocor, sehingga urine babi tsb.merembes ke daging.

Lemak punggung babi tebal.

1. Babi memiliki back fat (lemak punggung) yang lumayan tebal.
2. Konsumen babi sering memilih daging babi yg lemak punggungnya tipis,
3. karena semakin tipis lemak punggungnya, dianggap semakin baik kualitasnya.
4. Sifat lemak punggung babi adalah mudah mengalami oxidative rancidity, shg. secara struktur kimia sudah tidak layak dikonsumsi.

Fakta-fakta yang membuat seseorang harus segera menjauhi babi

1. Babi adalah hewan yang kerakusannya dalam makan tidak tertandingi hewan lain. Ia makan semua makanan di depannya.
2. Jika perutnya telah penuh atau makanannya telah habis, ia akan memuntahkan isi perutnya dan memakannya lagi, untuk memuaskan kerakusannya. Ia tidak akan berhenti makan, bahkan memakan muntahannya.
3. Ia memakan semua yang bisa dimakan di hadapannya. Memakan kotoran apa pun di depannya, entah kotoran manusia, hewan atau tumbuhan, bahkan memakan kotorannya sendiri, hingga tidak ada lagi yang bisa dimakan di hadapannya.
4. Kadang ia mengencingi kotoranya dan memakannya jika berada di hadapannya, kemudian memakannya kembali.
5. Ia memakan sampah, busuk-busukan, & kotoran hewan.
6. Babi adalah hewan mamalia satu-satunya yang memakan tanah, memakannya dalam jumlah besar & dalam waktu lama, jika dibiarkan.
7. Kulit orang yang memakan babi akan mengeluarkan bau yang tidak sedap.
8. Penelitian ilmiah modern di 2 negara Timur & Barat, yaitu Cina dan Swedia :

Cina (mayoritas penduduknya penyembah berhala) & Swedia (mayoritas penduduknya sekuler) menyatakan: "Daging babi merupakan merupakan penyebab utama kanker anus & kolon".

* Persentase penderita penyakit ini di negara-negara yang penduduknya memakan babi, meningkat secara drastis.
* Terutama di negara-negara Eropa, dan Amerika, serta di negara-negara Asia seperti Cina dan India ).
* Sementara di negara-negara Islam, persentasenya amat rendah, sekitar 1/1000.
* Hasil penelitian ini dipublikasikan pada 1986, dalam Konferensi Tahunan Sedunia tentang Penyakit Alat Pencernaan, yang diadakan di Sao Paulo . Babi banyak mengandung parasit, bakteri, bahkan virus yang berbahaya, sehingga dikatakan sebagai Reservoir Penyakit, seperti : Virus Encephalitis, Virus Ebola, Virus H5N1, cacing pita, dll.

Http://Lintasberita .com